Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) meresmikan Pojok Statistik sebagai upaya memperkuat literasi data dan mendorong riset berbasis statistik di lingkungan perguruan tinggi. Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyebut BPS sebagai lembaga penyedia data statistik nasional yang menjadi dasar pengambilan keputusan, sehingga kolaborasi ini dinilai strategis untuk memperkuat ekosistem pengetahuan dan riset berbasis data di kampus.
Menurut Tatacipta, Pojok Statistik memiliki sejumlah makna strategis. Fasilitas ini diharapkan menjadi pusat layanan dan edukasi statistik resmi bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti ITB; mendekatkan kampus pada sumber data nasional yang kredibel dan terstandar; serta membuka ruang kolaborasi lebih luas antara ITB dan BPS, baik untuk riset bersama, penyusunan kurikulum, maupun pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Ia menekankan bahwa di tengah perkembangan teknologi digital, kebutuhan literasi data kian mendesak. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu membaca, mengolah, dan memanfaatkan data statistik untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan.
“Melalui Pojok Statistik ini, ITB berharap mahasiswa dari berbagai bidang ilmu, tidak hanya dari statistika atau data sains, dapat merasakan manfaat langsung berupa akses data, bimbingan teknis, kegiatan literasi statistik, dan peluang riset kolaboratif,” ujar Tatacipta.
Dalam kerja sama yang tertuang melalui nota kesepahaman (MoU) dan bentuk kolaborasi lainnya, beberapa agenda yang akan dikembangkan meliputi riset bersama mengenai metodologi statistik dan integrasi data sosial ekonomi; kolaborasi big data serta pemanfaatan data satelit dan data spasial; penguatan kurikulum literasi statistik dan data sains; pelatihan serta peningkatan kapasitas mahasiswa, dosen, dan aparatur BPS; hingga pemanfaatan Pojok Statistik sebagai pusat layanan data dan konsultasi statistik di ITB.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan Pojok Statistik di ITB menjadi yang kedelapan di Jawa Barat, dengan total 173 Pojok Statistik di seluruh Indonesia. Ia mengatakan keberadaan fasilitas ini ditujukan untuk meningkatkan literasi statistik bagi mahasiswa dan sivitas akademika, sekaligus memperluas pemanfaatan produk statistik BPS.
“Pojok Statistik ini untuk meningkatkan literasi statistik kepada mahasiswa dan kepada sivitas akademika. Kami menginginkan agar produk BPS, yaitu statistik bisa dimanfaatkan lebih luas oleh sivitas akademika dan juga oleh para mahasiswa,” kata Amalia.
Amalia menambahkan, ITB dan BPS juga akan berfokus pada peningkatan sumber daya manusia statistik ke depan. Menurutnya, BPS perlu menjadi lembaga statistik resmi negara yang modern, dan SDM statistik akan menjadi tulang punggung pengembangan lembaga tersebut.
Sejumlah kerja sama yang akan digagas antara lain percepatan program master degree, pengembangan kurikulum Politeknik Statistika STIS, serta pertukaran mahasiswa dan dosen.
Pada kesempatan yang sama, enam mahasiswa ITB dikukuhkan sebagai Agen Statistik dan satu dosen ITB sebagai Koordinator Agen Statistik. Para agen telah dibina oleh tim BPS, termasuk pelatihan pemanfaatan sistem layanan statistik BPS (Silastik BPS). Mereka akan berperan mendukung operasional Pojok Statistik, layanan konsultasi data, serta kegiatan peningkatan literasi statistik bagi sivitas akademika.
Melalui peresmian Pojok Statistik dan penandatanganan kerja sama, ITB dan BPS menyatakan komitmen memperkuat budaya literasi data, mendorong riset berbasis sains, dan menghadirkan kontribusi bagi pembangunan nasional.