Akses internet yang kian mudah di kota-kota besar tidak selalu mencerminkan kondisi di wilayah terpencil. Pengalaman kunjungan ke Desa Sei Sembilang, Kabupaten Banyuasin, pada 2023 menunjukkan bahwa konektivitas masih menjadi persoalan yang memengaruhi komunikasi warga hingga aktivitas ekonomi, termasuk pelaku usaha kecil.
Penulis menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi yang ia saksikan sejak era 1990-an—mulai dari mahal dan lambatnya akses internet hingga kemudahan saat ini—membuatnya sempat beranggapan internet telah menjangkau seluruh pelosok. Namun, anggapan itu berubah setelah melihat langsung keterbatasan jaringan di Desa Sei Sembilang.
Perjalanan menuju desa tersebut ditempuh melalui kombinasi jalur darat dan laut. Dari Palembang, perjalanan darat menuju Desa Sungsang memakan waktu sekitar 1,5 jam, lalu dilanjutkan dengan speedboat selama sekitar 1,5 jam menuju Desa Sei Sembilang. Total perjalanan setidaknya sekitar tiga jam.
Setibanya di dermaga Desa Sei Sembilang, sinyal ponsel dilaporkan melemah dan hanya muncul pada jam serta lokasi tertentu dengan kestabilan yang rendah. Selama dua hari satu malam berada di desa itu, ponsel penulis lebih banyak tidak digunakan karena keterbatasan jaringan. Kondisi ini dinilai berpotensi memperlambat penerimaan informasi penting, terutama dalam situasi genting, terlebih karena kapal menuju dan dari Palembang tidak beroperasi 24 jam dan turut dipengaruhi cuaca yang kadang ekstrem.
Kunjungan ke Desa Sei Sembilang sendiri dilakukan dengan tujuan melihat burung air migran dari Siberia yang singgah di kawasan Taman Nasional Sembilang. Disebutkan, setiap tahun sekitar 30.000 hingga 40.000 burung air singgah di taman nasional tersebut yang lokasinya tidak jauh dari desa.
Di sisi lain, keterbatasan akses internet juga dikaitkan dengan hambatan ekonomi masyarakat setempat. Desa Sei Sembilang dikenal memiliki hasil laut dan perkebunan yang dinilai berpeluang dipasarkan lebih luas apabila akses teknologi dan informasi lebih mudah.
Dalam bagian lain, penulis menyinggung contoh dari wilayah sekitar, yakni Desa Sungsang yang masih berada dalam kabupaten yang sama. Melalui PKK Desa Sungsang IV, warga disebut telah berupaya memaksimalkan potensi desa menjadi produk makanan dan minuman bernilai jual lebih tinggi. Gambaran ini disampaikan untuk menunjukkan bagaimana pemanfaatan potensi lokal dapat berkembang ketika akses dan dukungan memadai.