Pasar nikel global diperkirakan masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan (surplus) pada 2025. Proyeksi ini disampaikan Ricardo Ferreira, Director of Market Research and Statistics di International Copper, Nickel and Lead and Zinc Study Groups, dalam paparan bertajuk “Market Outlook: Current Status and Future Trends of the Global Nickel Industry” pada 2025 Indonesia Mining Conference & Critical Metals Conference.
Dalam paparannya, Ferreira menekankan peran mineral kritis bagi transisi energi. Panel surya, kendaraan listrik dan baterai, jaringan listrik, hingga teknologi digital membutuhkan beragam mineral, termasuk nikel yang banyak digunakan pada baterai dan sejumlah aplikasi industri.
Surplus pasar berlanjut hingga 2025
Berdasarkan pembahasan pada pertemuan International Nickel Study Group (INSG) April 2025, keseimbangan pasar nikel global sempat mengalami kekurangan pasokan pada 2021, ketika permintaan pulih seiring pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19. Namun, pada 2022 pasar berbalik menjadi surplus akibat perlambatan ekonomi yang menekan permintaan, bersamaan dengan kuatnya produksi nickel pig iron (NPI) di Indonesia dan nikel sulfat di China.
Surplus berlanjut pada 2023, ditopang tambahan produksi anoda nikel di China, selain NPI dan nikel sulfat. Pada 2024, kondisi surplus dinilai bertahan dengan tingkat yang mirip tahun sebelumnya. Untuk 2025, INSG memperkirakan surplus akan meningkat lebih jauh.
Harga nikel cenderung datar, persediaan meningkat
Di sisi harga, nikel di London Metal Exchange (LME) berada di kisaran US$15.000 per metrik ton (mt) pada lima bulan pertama 2025. Secara historis, harga penutupan akhir tahun tercatat US$16.540/mt pada 2020, naik menjadi US$20.700/mt pada 2021, lalu melonjak ke US$30.425/mt pada 2022. Setelah itu, harga turun ke US$16.300/mt pada 2023 dan kembali melemah menjadi US$15.100/mt pada 2024. Hingga akhir Mei 2025, harga berada sekitar US$15.500/mt.
Persediaan gabungan LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) juga menunjukkan perubahan besar. Dari 490.000 mt pada awal 2016, stok turun menjadi 38,2 ribu mt pada akhir Mei 2023, namun kembali meningkat menjadi 230,6 ribu mt pada akhir April 2025.
Produksi tambang naik, Indonesia memimpin
Data INSG yang dipaparkan pada pertemuan April 2025 menunjukkan produksi tambang nikel global naik 15,1% pada 2023, bertambah 2,3% pada 2024, dan diperkirakan meningkat lagi 8,5% pada 2025.
Indonesia disebut sebagai produsen nikel terbesar dunia, dengan estimasi pangsa 61,6% dari produksi global pada 2024 dan diproyeksikan naik menjadi 63,4% pada 2025. INSG mencatat proyek-proyek yang didukung China menjadi pendorong utama lonjakan produksi bijih nikel di Indonesia, dan data bulanan 2022–2024 menunjukkan sebagian besar produksi bijih nikel global berasal dari Indonesia.
Produksi nikel primer terus tumbuh, Asia jadi pusat pertumbuhan
INSG juga merilis pembaruan produksi nikel primer global. Produksi nikel primer meningkat 9,8% pada 2023 dan naik lagi 4,8% pada 2024. Tren kenaikan ini diperkirakan berlanjut pada 2025 dengan pertumbuhan 5,9%.
Sejak 2021, Indonesia menjadi produsen nikel primer terbesar dunia dan diproyeksikan memegang 46,9% pangsa pasar global pada 2025. China berada di posisi kedua dengan 29,3%. Pertumbuhan produksi nikel primer pada 2025 diperkirakan terutama berasal dari kawasan Asia.
Indonesia mempercepat NPI, China menahan produksi
Sejak 2020, produksi NPI Indonesia dilaporkan telah melampaui China. Indonesia meningkatkan output dengan menambah lini produksi baru. Total produksi NPI Indonesia mencapai 1,75 juta mt pada 2023, naik menjadi sekitar 1,85 juta mt pada 2024, dan diperkirakan mendekati 2 juta mt pada 2025. Angka tersebut diproyeksikan setara 53,5% dari produksi nikel primer global.
Sementara itu, China disebut akan melanjutkan tren pengurangan atau menstabilkan produksinya.
Ekspor meningkat meski bijih dilarang keluar sejak 2020
Indonesia melarang ekspor bijih nikel sejak Januari 2020. Sebagian produksi digunakan untuk kebutuhan domestik—terutama NPI untuk industri baja tahan karat—sementara sisanya diekspor dalam bentuk produk seperti NPI, MHP, blister copper, dan copper cathode.
INSG mencatat ekspor nikel (logam) Indonesia terus meningkat: naik 89% pada 2022, bertambah 37% pada 2023, dan diproyeksikan naik 17% pada 2024. Kinerja awal 2025 juga dinilai kuat, dengan kenaikan 34% pada tiga bulan pertama.
Sejumlah fasilitas global tutup, utilisasi kapasitas belum penuh
Di tengah harga yang rendah dan/atau biaya tinggi, sebagian produsen global mengurangi atau menghentikan produksi. INSG mencatat penutupan pada segmen ore/concentrate di Australia (Malle Resources Avebury pada Februari 2024 dan Panoramic Resources Savannah pada Januari 2024). Pada segmen ferronickel, penutupan atau penghentian tercatat di beberapa negara, termasuk Kosovo, Republik Dominika, Makedonia Utara, Ukraina, Yunani, Guatemala, Kaledonia Baru, serta Myanmar (dengan catatan status restart).
Selain itu, terdapat pemangkasan produksi di Jepang (Pacific Metals Hachinohe pada 2022/23 dan Soka Ebina pada pertengahan 2022) serta NPL di China. INSG menyebut sekitar 68% lini produksi nikel beroperasi, sementara 32% kapasitas berada dalam kondisi tidak beroperasi. Di sisi lain, proyek di Indonesia dan China disebut mempercepat pembangunan.
Permintaan naik, namun baja tahan karat tetap dominan
Untuk permintaan nikel primer global, INSG memperkirakan kenaikan 7,8% pada 2023, sekitar 4,8% pada 2024, dan meningkat lagi 5,7% pada 2025. China diproyeksikan tetap menjadi konsumen terbesar dengan porsi 63,5% dari permintaan global pada 2025, disusul Indonesia dengan 12,2%.
Penggerak pertumbuhan permintaan dinilai tetap terkonsentrasi di Asia, terutama China dan Indonesia. Meski pangsa penggunaan nikel untuk baterai meningkat, baja tahan karat masih mendominasi permintaan—mencapai hampir 80%. INSG juga menilai bahwa meskipun produksi baterai kendaraan listrik terus naik, pertumbuhan permintaan nikel dari segmen ini pada 2024 diperkirakan lebih terbatas dibanding ekspektasi.
Perkembangan baterai nikel tinggi
Data yang dipaparkan menunjukkan produksi prekursor katoda ternary di China meningkat dari 320.000 mt pada 2020 menjadi 634.000 mt pada 2021, lalu naik lagi menjadi 843.000 mt pada 2022. Namun, produksi turun ke 793.000 mt pada 2023 dan kembali turun menjadi 782.000 mt pada 2024. Data awal menunjukkan produksi rebound pada Januari–April 2025 dengan kenaikan 12%.
Dari sisi pangsa pasar, NCM622 meningkat menjadi 32% pada 2024 (dari 31% pada 2023). Pangsa NCM811 naik kembali mendekati 40% pada 2024 (dari 38% pada 2023). Pada kuartal I 2025 (Januari–Maret), pangsa NCM622 naik lagi menjadi sekitar 36,5%, sementara NCM811 sedikit turun ke sekitar 37,5%.
Prospek: surplus berlanjut, kebijakan berpotensi memengaruhi pasar
INSG menyimpulkan pasar nikel primer global mengalami kelebihan pasokan pada 2024 dan tren tersebut diperkirakan berlanjut pada 2025. Indonesia dan China disebut menjadi dua negara utama yang mendorong perubahan pasar, sementara wilayah lain melakukan pemangkasan produksi. Baja tahan karat tetap menjadi penggunaan paling penting, sedangkan peningkatan penggunaan nikel di pasar baterai dinilai belum secepat perkiraan.
Selain faktor fundamental, Ferreira juga menyoroti bahwa kebijakan di berbagai negara—termasuk standar ESG, subsidi, tarif, royalti, dan kuota—dapat memberikan dampak signifikan terhadap arah pasar nikel.