BERITA TERKINI
Harga DDR4 8GB Melonjak hingga 8,8 Kali pada Februari 2026, Pasokan Menipis karena Fokus Industri ke Memori untuk AI

Harga DDR4 8GB Melonjak hingga 8,8 Kali pada Februari 2026, Pasokan Menipis karena Fokus Industri ke Memori untuk AI

Memori DDR4 yang selama ini dikenal luas sebagai pilihan terjangkau dan mudah diperoleh kini mengalami kelangkaan, disertai lonjakan harga yang signifikan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar PC, tetapi juga merembet ke berbagai perangkat elektronik lain.

Menurut laporan Nikkei, harga modul DDR4 standar berkapasitas 8GB mencapai sekitar 15 dolar AS pada Februari 2026. Nilai tersebut naik 15 persen dibanding bulan sebelumnya, sekaligus melonjak hingga 8,8 kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Tekanan harga juga terjadi pada DRAM generasi lebih baru. DDR5 dilaporkan ikut mengalami kenaikan, meski tidak setajam DDR4, yang menunjukkan adanya tekanan lebih luas di pasar memori.

Salah satu pemicu utama kenaikan ini adalah perubahan strategi produksi di kalangan produsen semikonduktor besar. Samsung, SK Hynix, dan Micron disebut secara bertahap mengurangi produksi DDR4 dan LPDDR4, lalu mengalihkan kapasitasnya ke memori modern berbandwidth tinggi yang dinilai lebih menguntungkan.

Peralihan tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan industri terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI). Pengembangan memori yang lebih canggih untuk mendukung AI dipandang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding teknologi yang lebih lama seperti DDR4.

Di sisi lain, perubahan ini menimbulkan konsekuensi bagi perusahaan yang masih bergantung pada DDR4. Sejumlah laporan menyebut pembeli hanya mampu memperoleh sekitar setengah dari kebutuhan memori mereka meski harga sudah meningkat drastis. Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat produksi dan memaksa penyesuaian strategi dalam waktu singkat.

Dampaknya juga meluas ke berbagai kategori produk. Selain laptop dan smartphone, perangkat seperti kamera digital hingga televisi turut disebut terdampak oleh terbatasnya pasokan DDR4.

Dalam situasi tersebut, sebagian produsen bahkan mulai mempertimbangkan penggunaan DDR3 sebagai alternatif. Namun, opsi ini juga menghadapi tantangan karena pasokan DDR3 disebut semakin terbatas.

Meski DDR4 belum sepenuhnya ditinggalkan, arah industri menunjukkan teknologi ini bukan lagi prioritas utama. Untuk sementara, pasar dihadapkan pada harga yang lebih tinggi, ketersediaan yang menyusut, serta ketidakpastian bagi pelaku industri yang masih mengandalkan DDR4.