JAKARTA — Aktivitas harian seperti memilih menu makan siang, menentukan rute tercepat, atau memutuskan waktu berangkat kerap dianggap sepele. Namun di tengah ritme kehidupan kota yang cepat, rangkaian keputusan kecil itu dapat menyita waktu dan energi, terlebih ketika muncul situasi tak terduga seperti hujan saat jam pulang kerja atau perbedaan pilihan makanan.
Dalam ajang GrabX 2026 yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (8/4/2026), Grab memperkenalkan 13 inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat layanan yang sudah ada, bukan dengan mengubah layanan utama, melainkan menambahkan AI sebagai lapisan baru yang bekerja di balik layar agar aktivitas pengguna lebih praktis.
Seluruh inovasi itu dibangun di atas Grab Intelligence Layer, infrastruktur AI yang memungkinkan sistem memahami kondisi di lapangan secara real-time. Dengan kemampuan tersebut, Grab menyatakan dapat membantu pengguna dan mitra dalam mengambil keputusan dengan lebih cepat, tepat, dan efisien.
Group Chief Executive Officer (CEO) & Co-founder Grab Anthony Tan menilai perkembangan AI bukan lagi sekadar tren. “Kita hidup di dunia di mana orang yang tidak mengadopsi AI sangat mungkin akan tertinggal. Ini bukan masa depan yang jauh. Ini adalah realitas yang harus kita hadapi hari ini,” ujar Anthony.
Anthony mengatakan, adopsi AI di ekosistem Grab merupakan respons terhadap percepatan penggunaan AI yang berpotensi menciptakan kesenjangan baru. Ia mengakui perubahan tersebut tidak selalu terasa nyaman.
“Kalau hal ini terasa menakutkan bagi Anda, bagi saya pun demikian. Bayangkan bagaimana dampaknya bagi penjual kecil di Semarang atau seorang ibu tunggal berusia 58 tahun yang menjadi pengemudi di Hanoi,” kata dia.
Menurut Anthony, hal itu memunculkan pertanyaan tentang masa depan berbasis AI. “Dalam perlombaan menuju masa depan berbasis AI, apakah mereka akan tertinggal? Di Grab, kami percaya jawabannya adalah tidak,” tuturnya.
Karena itu, Grab menekankan manfaat AI harus bisa dirasakan oleh semua pihak, tidak hanya pelanggan, tetapi juga Mitra Pengemudi dan pelaku usaha. Anthony menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari filosofi “AI-First with Heart”, yakni menghadirkan teknologi canggih dengan pendekatan yang tetap berfokus pada kebutuhan manusia sehari-hari.
Chief Product Officer (CPO) Grab Philipp Kandal mengatakan, sebagian besar inovasi berangkat dari situasi sederhana yang sering ditemui pengguna. Ia mencontohkan kondisi jam pulang kerja di Manila. “Bayangkan jam 6.30 sore di Manila. Hujan, macet, dan semua orang ingin pulang. Kenapa tidak berbagi perjalanan?” katanya.
Namun, menurut Philipp, berbagi perjalanan tidak selalu mudah diterapkan. “Siapa yang turun dulu? Siapa yang bayar dulu? Itu semua jadi ribet untuk perjalanan yang seharusnya sederhana,” ujarnya.