BERITA TERKINI
Google Minta Maaf usai Notifikasi Berita Otomatis Memuat Kata Rasis

Google Minta Maaf usai Notifikasi Berita Otomatis Memuat Kata Rasis

Google menyampaikan permohonan maaf setelah fitur notifikasi berita otomatisnya mengirimkan pemberitahuan push yang memuat kata rasis atau N-word kepada pengguna. Insiden ini kembali menyorot risiko penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyajian informasi publik, terutama ketika sistem bekerja secara otomatis tanpa penyuntingan manusia.

Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi ketika notifikasi merujuk pada tautan berita dari The Hollywood Reporter tentang sebuah kejadian di ajang BAFTA Film Awards. Namun, sistem AI Google justru menyisipkan istilah ofensif pada teks di bawah tautan yang dikirimkan langsung ke perangkat pengguna.

Kasus ini pertama kali ramai setelah seorang pengguna Instagram bernama Danny Price mengunggah tangkapan layar notifikasi tersebut dengan nada sarkasme, sambil menyinggung momen Bulan Sejarah Hitam (Black History Month). Unggahan itu memicu gelombang protes dan perhatian publik terhadap cara AI menyaring bahasa sensitif.

Menanggapi reaksi tersebut, Google menyatakan telah menghapus pemberitahuan yang menyinggung itu dan tengah melakukan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Insiden ini berkaitan dengan kejadian di panggung BAFTA Film Awards, saat aktor Michael B. Jordan dan Delroy Lindo naik ke panggung untuk menyerahkan penghargaan. Suasana menjadi canggung ketika terdengar teriakan kata rasis dari arah penonton.

Orang yang disebut sebagai pelaku adalah John Davidson, seorang aktivis sindrom Tourette. Ia menjelaskan bahwa teriakan itu merupakan gejala vokal yang tidak disengaja atau tics. Davidson juga menyampaikan rasa malu dan penyesalannya, serta menegaskan bahwa ucapan spontan tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk kebencian.

Meski konteks kejadian telah dijelaskan dalam pemberitaan, sistem AI yang merangkum informasi tersebut dinilai gagal menyaring konten sensitif. Akibatnya, kata-kata kasar itu ikut terbawa dan muncul dalam notifikasi otomatis yang diterima publik.

Peristiwa ini menambah sorotan terhadap keterbatasan AI dalam memahami konteks budaya dan sensitivitas bahasa, khususnya saat mengolah isu sosial yang kompleks. Dalam laporan yang dikutip dari Engadget pada Rabu (25/2/2026), insiden ini juga muncul di tengah upaya perusahaan teknologi besar mengintegrasikan AI secara luas ke dalam produk sehari-hari.

Kasus Google bukan satu-satunya. Tahun lalu, Apple menarik fitur notifikasi push berbasis AI setelah algoritmanya membuat kesalahan menyesatkan, termasuk memberikan informasi keliru bahwa seorang tersangka pembunuhan CEO ternama telah menembak dirinya sendiri.

Rangkaian insiden tersebut memicu diskusi baru mengenai masa depan jurnalisme berbasis teknologi dan dampaknya terhadap kepercayaan publik. Perusahaan teknologi kini dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga memastikan tanggung jawab etis atas konten yang disebarkan melalui sistem otomatis.