Jakarta — Google bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) serta Garuda Sparks Innovation Hub mengumumkan kolaborasi jangka panjang untuk mempercepat adopsi kecerdasan artifisial (AI) di kalangan startup Indonesia melalui program Google for Startups Accelerator.
Inisiatif ini berada di bawah payung Google Bangkit Bersama AI dan ditujukan untuk memperkuat kapasitas serta daya saing startup AI nasional pada periode 2025 hingga 2029. Fokusnya tidak hanya mendorong penggunaan AI secara luas, tetapi memastikan teknologi tersebut menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal dan berdampak nyata.
Sejak diluncurkan pada 2025, program ini telah membina 63 startup melalui dua jalur, yakni Google for Startups Accelerator dan AI Solutions Lab Indonesia. Para pendiri startup didampingi mulai dari eksplorasi ide hingga pengembangan solusi AI yang siap dimanfaatkan di berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, keuangan, dan pertanian.
Melalui program akselerator, peserta memperoleh dukungan teknologi, pendampingan intensif, serta akses ke ekosistem yang lebih luas, termasuk infrastruktur AI Google Cloud. Akses tersebut diharapkan mempercepat pengembangan produk dari tahap konsep hingga implementasi di pasar.
Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid, dalam sambutannya menyoroti posisi Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Ia menyebut Indonesia memiliki populasi lebih dari 278 juta jiwa, tingkat penetrasi internet sekitar 80,66%, serta lebih dari 2.500 startup aktif yang berkontribusi pada ekosistem digital nasional.
Menurut Meutya, ekosistem startup memerlukan penguatan melalui mentorship, jejaring industri yang kuat, akses pasar, eksposur investor, dan ruang eksperimen yang terstruktur. Ia menilai penguatan tersebut perlu diaktivasi lewat program konkret dan kolaborasi strategis. Startup berbasis AI, lanjutnya, diproyeksikan menjadi motor penggerak transformasi berikutnya dalam ekonomi digital nasional.
Sejumlah peserta Google for Startups Accelerator disebut telah menghadirkan inovasi berbasis AI di berbagai sektor, antara lain Analitica di bidang pendidikan, DayaTani di sektor pertanian, dan Nexmedis di layanan kesehatan.
Analitica mengembangkan Interactive Cognitive Assistant (ICA), ekosistem pembelajaran generatif dan multimodal yang mengintegrasikan Gemini 3, Gemini TTS, serta Nano Banana Pro di atas Firebase. ICA diklaim mampu menghasilkan podcast dan video penjelasan singkat secara instan, serta mengubah pertanyaan siswa menjadi penjelasan audio atau visual yang dipersonalisasi.
Sementara itu, DayaTani menghadirkan Pak Dayat, asisten pertanian berbasis large language model (LLM) yang terintegrasi dengan WhatsApp. Dengan teknologi generative AI, petani dapat mengirim pesan suara terkait kondisi tanaman, gejala penyakit, input, hingga pola cuaca. Sistem kemudian menyimpan informasi tersebut sebagai memori kontekstual jangka panjang untuk memberikan rekomendasi yang lebih spesifik.
Di bidang kesehatan, Nexmedis membuat MCU AI, sistem yang mengotomatisasi pembuatan laporan medical check-up. Didukung Gemini Flash 2.0, solusi ini menganalisis data klinis, mengidentifikasi temuan abnormal, serta menghasilkan rekomendasi tindak lanjut yang dipersonalisasi dan berbasis bukti. Untuk perlindungan data sensitif, Nexmedis memanfaatkan Model Armor guna mendukung proses de-identifikasi data pribadi.
Selain akselerator, Google juga memperluas akses keterampilan AI melalui program Google for Startups School: Prompt to Prototype di Indonesia. Program ini ditujukan untuk memberdayakan founder non-teknis dan kreatif, serta calon wirausaha, dengan dukungan dari tahap pengembangan ide hingga pertumbuhan bisnis.