BERITA TERKINI
Gen Z Makin Banyak Memimpin Perusahaan: Siapkah Mereka Menjadi Bos?

Gen Z Makin Banyak Memimpin Perusahaan: Siapkah Mereka Menjadi Bos?

Pekerja muda kian sering menempati posisi kepemimpinan, baik sebagai pendiri perusahaan maupun pemimpin tim di organisasi yang sudah mapan. Namun, muncul pertanyaan: tanpa pengalaman panjang di dunia korporat, apakah mereka memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk memikul tanggung jawab besar tersebut?

Elle De Freitas, pendiri sekaligus pemimpin Wonderkind—perusahaan pemasaran media sosial berbasis di Austin, Texas—menjalani rutinitas yang padat. Dalam sehari, ia mengadakan pertemuan dengan tim kepemimpinan beranggotakan delapan orang untuk membahas bisnis baru, melakukan panggilan dengan klien terkait kampanye Instagram dan TikTok, menjalani sesi promosi dengan calon klien, serta memimpin rapat mingguan bersama 50 karyawan.

Yang membuat De Freitas menonjol adalah usianya. Pada usia 31 tahun, ia lebih muda dibanding banyak CEO. Bahkan, seluruh jajaran C-suite di perusahaannya diisi profesional Gen Z yang berusia maksimal 26 tahun. Konfigurasi kepemimpinan yang relatif muda ini terbilang tidak lazim, tetapi De Freitas meyakini ia mampu menjalankan peran tersebut.

Ia mengakui kerap mempertanyakan apakah dirinya “memenuhi syarat” atau “siap” memimpin. Namun, ia merasa kepercayaan dirinya tumbuh seiring keputusan-keputusan yang dinilai tepat. “Setiap keputusan baik yang saya buat membuat saya merasa lebih percaya diri dengan kemampuan kepemimpinan saya,” ujarnya.

Usia pemimpin kian muda, tetapi kesenjangan pengalaman jadi sorotan

Secara tradisional, kepemimpinan perusahaan kerap dikaitkan dengan usia dan pengalaman. Pandangan umum menyebutkan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan. Namun, generasi muda kini menantang asumsi tersebut.

Catatan penelitian McKinsey & Company pada Juni 2023 menunjukkan hampir sepertiga CEO S&P 500 yang baru diangkat pada tahun sebelumnya berusia di bawah 50 tahun—dua kali lipat dibandingkan 2018. Meski rata-rata CEO masih berusia 54 tahun, sejumlah data mengindikasikan dorongan generasi muda untuk menduduki posisi puncak semakin kuat.

Survei EY pada 2021 terhadap sekitar 1.500 responden Gen Z, misalnya, menemukan 45% menyatakan sangat atau sangat mungkin memulai perusahaan.

Meski begitu, sejumlah pakar manajemen menilai usia muda juga dapat menjadi hambatan bagi kepemimpinan yang efektif. Salah satunya karena pemimpin muda dinilai belum banyak menghadapi siklus ekonomi, belum menguasai pengetahuan institusional, atau belum sepenuhnya memiliki kecerdasan emosional dan soft skill seperti kemampuan beradaptasi, mengelola konflik, serta membangun semangat kerja tim.

Caroline Webb, pelatih kepemimpinan, penulis, dan penasihat senior di McKinsey, menekankan bahwa semua pemimpin memiliki titik buta. Namun, menurutnya, kaum muda cenderung lebih rentan karena pengalaman kerja yang terbatas.

“Ketika berada di awal karir, Anda belum memiliki pengenalan pola dan kesadaran akan kekurangan dan bias,” kata Webb.

Ia mencontohkan tantangan yang kerap dihadapi pemimpin pada akhirnya: membina karyawan berkinerja buruk atau membawa organisasi melewati kemerosotan ekonomi. Dalam situasi seperti itu, pemimpin mungkin perlu memangkas anggaran hingga mengurangi jumlah pekerja. Menurut Webb, seiring waktu para pemimpin belajar—mulai dari mengamati hingga melakukan—cara yang manusiawi dan efektif untuk menjalankan keputusan sulit semacam itu.

Sir Cary Cooper, profesor di Alliance Manchester Business School, Inggris, juga menyoroti potensi risiko lain: rasa percaya diri yang berlebihan. Menurutnya, pemimpin muda bisa terjebak karena belum memahami batas pengetahuan dan kemampuannya.

“Hal negatif utamanya adalah generasi muda tidak mengetahui betapa banyak hal yang tidak mereka ketahui,” ujar Cooper. “Mereka belum memiliki pandangan realistis mengenai diri mereka sendiri serta kekuatan dan kelemahan mereka.”

Keunggulan Gen Z: perspektif segar, beragam, dan paham digital

Di sisi lain, para ahli juga menilai karakter generasi muda dapat menjadi keuntungan. Webb mengatakan pengalaman bertahun-tahun memang dapat memberi kebijaksanaan, tetapi juga berisiko memunculkan cara berpikir yang kaku. Kaum muda dinilai memiliki peluang lebih besar untuk memimpin tanpa “hambatan institusional” yang dapat menghambat inovasi.

“Tugas Anda sebagai seorang pemimpin adalah memberikan solusi kreatif terhadap masalah yang belum terpecahkan,” kata Webb. Ia menilai hal itu bisa lebih sulit jika seseorang sudah terlalu terpaku pada cara lama, sementara generasi muda cenderung tidak terikat pada anggapan tersebut.

Para ahli juga menilai kepekaan dan atribut khas Gen Z relevan dengan tantangan masa kini. Data dari Pew Research Center menyebut Gen Z sebagai generasi paling beragam secara etnis dan berpendidikan terbaik dalam sejarah AS. Laporan dari Annie E Casey Foundation menggambarkan Gen Z secara umum sebagai generasi progresif, inklusif, dan paham teknologi—tumbuh dengan ponsel pintar dan memiliki pemahaman intuitif terhadap teknologi.

“Generasi ini ditentukan oleh keberagaman, keterbukaan, dan kemampuannya menavigasi dunia yang berubah dengan cepat,” kata Cooper. Ia menilai kualitas-kualitas ini dibutuhkan dari pemimpin saat ini.

Cooper menambahkan bahwa meski banyak pekerja Gen X dan milenial juga nyaman dengan teknologi digital, ketangkasan digital Gen Z dibanding generasi sebelumnya dapat memberi keunggulan tersendiri. “Memahami nuansa ini sangat penting untuk masa depan,” ujarnya. “Gen Z dapat membantu kita memanfaatkan era digital semaksimal mungkin.”

Keyakinan, kreativitas, dan mencari mentor

Sejumlah pemimpin muda mengakui mereka tidak selalu memiliki ciri kepemimpinan tradisional, tetapi mengandalkan keyakinan dan energi untuk menjalankan peran. Jake Bjorseth, misalnya, keluar dari perguruan tinggi pada 2018 untuk mengejar ide bisnis perusahaan konsultan Gen Z.

Kini, Bjorseth yang berusia 24 tahun memimpin Trndsttrs, biro iklan berbasis di AS dengan 30 anggota yang membuat konten pemasaran untuk berbagai merek, termasuk Denny’s, Loreal, dan The North Face. Ia mengatakan pada awalnya sangat menyadari keterbatasan pengalaman, jaringan, dan pendidikan formal dibandingkan profesional yang lebih tua.

“Semua orang di sekitar saya mengatakan kepada saya bahwa saya melakukan kesalahan,” katanya. Namun ia merasa yakin bahwa ketika berada dalam situasi sulit tanpa banyak pilihan, ia akan mampu menemukan jalan keluar.

Ia juga mengingat keterkejutannya ketika pada 2020 McDonald’s mempekerjakan timnya untuk membuat video ucapan terima kasih bagi pekerja esensial pada masa awal pandemi Covid-19. Menurutnya, ketika perusahaan menyampaikan ingin menjangkau kelompok usia 18 hingga 21 tahun, ia menyadari nilai tambah timnya: mereka adalah bagian dari konsumen yang ingin dituju dan memahami platform media sosial secara mendalam.

De Freitas sependapat bahwa tim muda dapat menjadi keuntungan—sebagian besar waktu. Ia menilai rekan-rekannya kreatif dan tidak mudah terjebak pada proses yang dijalankan “hanya karena sudah lama begitu.”

Namun ia juga mengakui ada saat-saat menghadapi masalah sulit yang tidak bisa ia pecahkan sendiri. Karena anggota timnya pun memiliki pengalaman lebih sedikit, ia tidak selalu bisa mendapatkan jawaban dari internal. Dalam situasi demikian, ia memilih mencari masukan dari mentor dan orang-orang yang ia hormati.

Tidak ada usia tunggal yang “paling tepat” untuk memimpin

Pada akhirnya, para pakar menilai tidak ada patokan usia yang mutlak untuk menjadi pemimpin. Kurangnya pengalaman dapat menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Usia yang tepat untuk memimpin, menurut Webb, bergantung pada individu dan situasinya.

Ia menekankan bahwa kemampuan seperti kecerdasan, karisma, dan kesadaran diri tidak otomatis muncul ketika seseorang mencapai usia tertentu. Webb juga menyebut ia bekerja dengan banyak pemimpin yang lebih tua tetapi tetap kurang memiliki kesadaran diri.

“Ini bukan sesuatu yang biner,” kata Webb.

  • Generasi muda membawa perspektif baru, ketangkasan digital, dan pola pikir yang cenderung lebih terbuka.
  • Namun, keterbatasan pengalaman dapat memengaruhi kemampuan menavigasi krisis, mengelola konflik, dan mengambil keputusan sulit.
  • Dalam praktiknya, kesiapan memimpin lebih ditentukan oleh kompetensi, kesadaran diri, dan kemampuan belajar—bukan semata usia.