BERITA TERKINI
Gaya Hidup Sedentari Pascapandemi Dorong Kenaikan Kasus Nyeri Punggung Bawah pada Usia Produktif

Gaya Hidup Sedentari Pascapandemi Dorong Kenaikan Kasus Nyeri Punggung Bawah pada Usia Produktif

Perubahan pola kerja setelah pandemi Covid-19 disebut mendorong peningkatan signifikan kasus nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP), terutama pada kelompok usia produktif 20–40 tahun. Kondisi ini kerap berkaitan dengan kebiasaan bekerja sambil duduk terlalu lama serta minim aktivitas fisik.

Kelompok peneliti Low Back Pain Collaborators dalam jurnal The Lancet edisi 2023 mencatat, nyeri punggung bawah dialami sekitar 619 juta orang di seluruh dunia. Jumlah tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga 843 juta kasus pada 2050 apabila tidak diimbangi perubahan gaya hidup yang lebih aktif.

Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Yoga Rossi Widya Utama, Sp.N., menekankan pentingnya pencegahan sejak dini agar nyeri punggung bawah tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius. Menurutnya, rendahnya intensitas olahraga dan kebiasaan beraktivitas dengan postur yang tidak tepat menjadi pemicu utama.

“Nyeri punggung ini disebabkan oleh posisi tubuh yang sama terus menerus, seperti duduk atau berdiri terus menerus. Apalagi ketika tubuh tidak banyak bergerak, terutama karena kurang olahraga,” kata Yoga, seperti dikutip dari laman resmi UGM, Sabtu, 24 Januari 2026.

Ia menjelaskan, sistem kerja yang semakin banyak dilakukan di dalam ruangan, termasuk rapat daring berdurasi panjang, membuat gaya hidup sedentari—yakni pola hidup dengan minim gerak fisik aktif—menjadi umum di kalangan pekerja. Dampaknya, otot, sendi, dan tulang punggung bagian bawah bekerja secara statis dalam waktu lama.

Selain kurang bergerak, postur tubuh yang buruk juga dinilai berkontribusi besar terhadap munculnya nyeri punggung bawah. Kebiasaan duduk, berdiri, atau melakukan gerakan berulang dengan teknik yang salah, terutama saat mengangkat beban, dapat meningkatkan risiko cedera pada punggung.

“Nyeri punggung bawah dipengaruhi oleh jenis aktivitas yang dilakukan. Misal, apakah akan kena ke otot, sendi, atau tulang,” ujarnya.

Yoga menambahkan, otot punggung bawah menjadi bagian yang paling sering terdampak, terutama pada orang yang terbiasa duduk dalam durasi panjang tanpa diselingi peregangan atau aktivitas fisik.

Untuk pencegahan, ia menyarankan langkah sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari, seperti menjaga postur tubuh tetap ideal serta melakukan peregangan ringan secara berkala. Ia juga merekomendasikan penggunaan kursi dan meja kerja ergonomis yang dapat menopang lekuk alami tulang belakang.

Aktivitas fisik seperti berjalan kaki, latihan penguatan otot ringan, dan berenang juga dinilai efektif bila dilakukan secara rutin, intens, dan dengan teknik yang benar. Selain itu, Yoga mengingatkan pentingnya tidur yang cukup dan asupan makanan sebagai fondasi menjaga kesehatan tubuh.

Adapun gejala nyeri punggung bawah umumnya berupa rasa nyeri tumpul atau tajam di area punggung bawah, kesulitan berdiri tegak, tidak nyaman saat duduk lama, hingga nyeri yang menjalar ke kaki. Jika keluhan muncul, Yoga menyarankan istirahat secukupnya serta kompres hangat atau dingin pada area yang nyeri.

Ia mengingatkan, istirahat terlalu lama justru dapat memperparah gejala, terutama bila kasur terlalu empuk karena tidak menjaga lekuk alami tulang. Bila keluhan belum membaik, pasien dapat mengonsumsi obat pereda nyeri atau menjalani fisioterapi berdasarkan konsultasi dengan dokter.