BERITA TERKINI
Meta Membubarkan Sejumlah Studio Game VR, Prioritas Investasi Bergeser ke Wearable AI

Meta Membubarkan Sejumlah Studio Game VR, Prioritas Investasi Bergeser ke Wearable AI

Meta dilaporkan membubarkan beberapa studio game realitas virtual (VR) miliknya yang dikenal lewat sejumlah judul besar, yakni Twisted Pixel, Sanzaru, dan Armature. Langkah ini memunculkan kekhawatiran tentang arah masa depan pengembangan game VR di bawah Meta, terlebih setelah muncul laporan bahwa aplikasi kebugaran VR populer, Supernatural, tidak lagi menerima pembaruan maupun konten baru.

Twisted Pixel dikenal sebagai pengembang Marvel’s Deadpool VR. Sementara itu, Sanzaru berada di balik Asgard’s Wrath, dan Armature menggarap Resident Evil 4 VR. Pembubaran studio-studio tersebut dipandang sebagai sinyal pergeseran prioritas perusahaan.

Di saat yang sama, pengguna Supernatural disebut menerima informasi bahwa aplikasi tersebut tidak akan mendapatkan pembaruan atau konten baru. Meski layanan dikatakan akan “tetap aktif”, muncul pertanyaan mengenai keberlanjutan katalog musik berlisensi serta kemitraan di masa depan. Informasi ini dihimpun dari unggahan di grup Facebook Supernatural dan email yang dikirimkan kepada pengguna.

Pergeseran ini berkaitan dengan perubahan fokus Meta ke perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI). Keputusan tersebut mengikuti kabar pada akhir tahun lalu bahwa Meta telah “menunda” kemitraan Horizon OS dengan Asus dan Lenovo. Seorang juru bicara Meta menyampaikan kepada Engadget bahwa perusahaan mengalihkan sebagian investasinya dari Metaverse ke wearable, dan penghematan dari langkah tersebut akan diinvestasikan kembali untuk mendukung pertumbuhan wearable pada tahun ini.

Saat dimintai konfirmasi lebih lanjut mengenai dugaan Meta meninggalkan VR, perwakilan perusahaan menyatakan Meta tidak memiliki informasi tambahan untuk dibagikan. Pernyataan ini turut memperkuat spekulasi bahwa ambisi Meta untuk mendorong VR tidak lagi seagresif sebelumnya.

Di masa lalu, Oculus Quest 2 sempat dianggap sebagai titik balik VR. Didukung situasi pandemi COVID-19 dan harga yang relatif terjangkau, perangkat ini mencatat penjualan tinggi. Dalam waktu kurang dari setengah tahun, Quest 2 disebut berhasil menjual lebih banyak unit dibandingkan total penjualan seluruh headset Oculus sebelumnya. Bahkan, sempat muncul laporan yang menyebut penjualannya untuk sementara mengungguli konsol Xbox Series.

Namun, momentum tersebut tidak sepenuhnya berlanjut. Meta Quest 3, meski dinilai sebagai perangkat yang mumpuni, tidak menimbulkan dampak pasar sebesar pendahulunya. Dalam periode yang sama, Meta semakin menonjolkan fokus baru pada AI dan perangkat wearable AI, termasuk kacamata Ray-Ban Meta yang disebut populer, seiring konfirmasi perusahaan mengenai pengalihan investasi dan prioritasnya.

Di luar Meta, prospek VR gaming disebut masih terbuka. Valve dijadwalkan meluncurkan headset Steam Frame pada akhir 2026. Perangkat ini digambarkan mengusung konsep “Steam Deck untuk wajah Anda”, yang dapat berfungsi sebagai perangkat untuk menikmati game di layar virtual besar sekaligus berpotensi menghadirkan pengalaman gaming VR penuh, meski kemungkinan tidak akan semurah Quest 3.

Selain itu, jika Valve atau Google memperkuat upaya gaming XR mereka—Google memiliki platform Android XR—para talenta dari studio yang dibubarkan Meta kini berada di luar struktur perusahaan dan berpotensi direkrut. Tim di balik Supernatural juga dinilai memiliki keahlian dalam kebugaran XR, yang masih membuka ruang eksplorasi lebih lanjut, termasuk untuk augmented reality (AR). Tahun 2026 disebut dapat menjadi periode penentu, di tengah kekecewaan sebagian penggemar Quest, sekaligus peluang bagi VR untuk kembali menguat meski mungkin melalui platform yang berbeda.