JAKARTA — Ketergantungan anak pada gawai atau gadget menjadi kekhawatiran yang kian sering disuarakan para orangtua. Mereka menilai penggunaan gadget yang berlebihan dapat memengaruhi kestabilan emosi anak, termasuk memicu perilaku tantrum ketika akses terhadap perangkat tersebut dibatasi.
Sejumlah orangtua mengaku melihat perubahan perilaku anak ketika penggunaan gadget tidak dikontrol. Anak yang dibiarkan terlalu sering bermain gadget dinilai menjadi lebih emosional dan kerap tantrum saat dilarang menggunakan gadget dalam waktu tertentu.
Hal itu dialami Nawla (30), ibu dengan anak berusia empat tahun. Ia mengatakan, awalnya keluarga memberikan ponsel kepada anak ketika ayah bekerja dan ibu sedang sibuk agar anak tidak rewel. Namun, seiring waktu, kebiasaan tersebut memunculkan masalah baru.
“Awalnya memang kami kasih handphone aja kalau misalnya ayahnya lagi kerja dan ibunya lagi sibuk biar enggak rewel. Tetapi lama-lama, pas lagi bukan waktunya buat main handphone, dia bisa ngamuk-ngamuk. Kadang serba salah juga,” ujar Nawla.
Setelah berulang kali menghadapi emosi anak yang kerap meledak, Nawla menyimpulkan bahwa durasi bermain gadget yang tidak dibatasi dapat memengaruhi kemampuan anak mengelola emosi. Ia juga menilai anaknya seperti kehilangan fokus terhadap lingkungan sekitar karena perhatian hanya tertuju pada perangkat, sehingga mudah marah ketika merasa terganggu saat sedang menggunakannya.
“Dulu waktu masih enggak dibatasin, dibanding sekarang beda banget, lebih tenang. Kalau sering menggunakan gadget anak lebih gampang tantrum, emosinya enggak kekontrol. Terus dia sering kayak orang bingung, fokusnya ke handphone doang,” kata Nawla.
Pengalaman serupa disampaikan Zaki (35), ayah dari anak laki-laki berusia 10 tahun yang duduk di kelas 3 SD. Ia menilai kesenangan yang didapat anak dari bermain gadget dan mengakses media sosial sering kali hanya berlangsung sementara, sementara dampak negatifnya lebih terasa ketika penggunaan perangkat dihentikan.
“Mereka memang kelihatan asyik dan senang karena dia bisa nonton yang dia mau, kadang ketawa-ketawa sendiri. Tapi sesaat doang, karena kalau pas handphone-nya diambil atau waktu mainnya habis, emosi mereka gampang banget meledak, uring-uringan,” kata Zaki.
Selain durasi penggunaan, Nawla juga menyoroti risiko dari fitur video vertikal berdurasi pendek seperti YouTube Shorts atau Instagram Reels. Menurutnya, perpindahan konten yang sangat cepat membuat anak menerima stimulus berlebihan sehingga sulit dikontrol.
“Di situ banyak tayangan-tayangan yang bisa langsung diganti kan sama anak-anak, tayangan singkat. Dan itu kan ngacak tuh, dari yang baik sampai yang enggak baik. Dari pemilihan kata-katanya juga banyak yang nggak bagus sih menurut saya kalau enggak diawasin,” jelas Nawla.
Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan kegelisahan orangtua terhadap dampak penggunaan gadget yang tidak terkontrol, terutama terkait perubahan emosi anak dan munculnya tantrum saat akses perangkat dibatasi.