BERITA TERKINI
Diet Digital saat Lebaran Disorot: Upaya Menghangatkan Silaturahmi, Namun Dinilai Tak Perlu Tanpa Gawai Sepenuhnya

Diet Digital saat Lebaran Disorot: Upaya Menghangatkan Silaturahmi, Namun Dinilai Tak Perlu Tanpa Gawai Sepenuhnya

Lebaran selama ini menjadi momentum silaturahmi keluarga dan masyarakat yang idealnya dilakukan melalui pertemuan langsung. Karena itu, banyak orang memilih mudik agar dapat bertatap muka dan mempererat hubungan.

Namun, pemandangan penggunaan gawai kini kerap mewarnai ruang tamu saat Idulfitri. Keluarga bisa duduk berdekatan, tetapi perhatian tersita pada layar. Fenomena ini dikenal sebagai phubbing, yakni terpaku pada gawai ketika sedang bersama orang lain, yang dinilai dapat membuat suasana silaturahmi terasa lebih hambar dan berjarak.

Di tengah kekhawatiran terkikisnya nilai sosial tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Islam (Persis) Jawa Barat, K.H. Iman Setiawan Latief, S.H., M.Pd., menyerukan gagasan “Gerakan Lebaran tanpa Gadget” atau pendekatan yang lebih adaptif berupa “Diet Digital”. Ia menyampaikan gagasan itu di Bandung, Senin, 16 Maret 2026.

“Diet digital ini adalah gagasan untuk mengembalikan esensi silaturahmi yang baik, hangat, dan mendalam,” ujar K.H. Iman. Menurutnya, melepaskan diri dari gawai saat hari raya memungkinkan dilakukan, meski menantang, dan perlu dimulai dari komitmen individu serta keluarga.

Ia menilai kampanye pembatasan gawai juga selaras dengan perhatian otoritas. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) belakangan menyoroti perlunya membatasi screen time, mengajak orang tua mengurangi penggunaan gawai pada anak, serta membimbing mereka agar kembali berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.

Untuk penerapan di rumah, K.H. Iman menyarankan langkah-langkah praktis, seperti menetapkan zona bebas gadget di ruang tamu, mematikan notifikasi, atau membuat kesepakatan untuk tidak memegang ponsel saat momen makan bersama.

Ia menguraikan, manfaat diet digital antara lain meningkatnya kualitas silaturahmi karena percakapan menjadi lebih hidup dan organik melalui tatap muka, serta adanya kesediaan mendengar cerita kerabat tanpa distraksi. Pembatasan gawai juga disebut dapat membangun kedekatan emosi sehingga Lebaran kembali menjadi ruang berbicara dari hati ke hati, baik antara orang tua dan anak, keluarga besar, maupun sahabat.

Menurutnya, suasana Lebaran juga dapat terasa lebih “hidup” bila diisi aktivitas bersama yang melibatkan interaksi fisik, seperti bernostalgia, bermain permainan tradisional, atau bercengkerama santai. Dari sisi medis dan psikologis, ia menambahkan, mengurangi kebiasaan menatap layar dapat membantu mata beristirahat, menurunkan kelelahan mental, serta mereduksi risiko ketergantungan digital.

Di sisi lain, pengamat sosial Universitas Padjadjaran (Unpad) Hery Wibowo menilai gawai tidak harus dimaknai negatif. Ia menyebut, bagi sebagian masyarakat yang menghadapi kendala sehingga tidak memungkinkan bersilaturahmi langsung, alat komunikasi justru menjadi substitusi penting.

“Gadget tidak harus dimaknai negatif, karena ini adalah alat komunikasi,” kata Hery. Ia menilai penggunaan gawai saat Lebaran cenderung positif karena memudahkan masyarakat berkirim kabar, meminta maaf, atau saling menyapa, baik secara pribadi maupun lewat grup aplikasi pesan instan. Menurutnya, potensi dampak negatif pada momentum Lebaran relatif kecil dibanding efektivitasnya dalam memelihara komunikasi, terutama bagi mereka yang tidak berkesempatan mudik.

Hery juga menjelaskan bahwa interaksi sosial memiliki beberapa level ideal. Bertemu langsung merupakan bentuk paling ideal, tetapi pemanfaatan gawai dapat menjadi substitusi ketika pertemuan tatap muka tidak memungkinkan.

Pengamat komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Ika Merdekawati Kusmayadi, MA, menilai Lebaran tanpa gawai bisa dilakukan, tetapi akan sulit jika dimaknai sebagai tanpa gawai sama sekali. Ia menekankan solusi yang lebih realistis adalah pembatasan penggunaan gawai, bukan eliminasi total.

Menurut Ika, pembatasan gawai dapat membuat komunikasi interpersonal lebih mendalam, meningkatkan kedekatan emosional, serta membuat komunikasi kelompok lebih menarik melalui cerita-cerita keluarga masa lampau. Namun ia juga mengingatkan potensi sisi negatif jika keluarga yang jauh tidak bisa berkomunikasi pada momen yang sama, serta hilangnya kesempatan untuk berfoto atau merekam video.

“Pada dasarnya Lebaran tanpa gawai mungkin sulit dilakukan secara total, karena gawai sudah menjadi bagian dari ekologi komunikasi modern. Akan tetapi, pembatasan penggunaan gawai dapat meningkatkan social presence dan memperkuat komunikasi interpersonal tatap muka,” ujar Ika.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Miryam A Sigarlaki, M.Psi., Psikolog, juga menyatakan Lebaran tanpa gawai sangat mungkin dilakukan, tetapi pelarangan total atau puasa gawai sepenuhnya sering kali tidak realistis dan tidak cocok bagi semua orang.

Alih-alih mematikan gawai seharian penuh, Miryam menyarankan pembatasan penggunaan secara sadar atau menciptakan momen bebas gadget agar saat berkumpul tidak hanya menunduk dan sekadar membacakan ucapan selamat Lebaran dari orang lain. Ia juga menyarankan keluarga bersepakat membuat “zona sakral tanpa gadget” untuk mengembalikan makna Idulfitri sebagai momen koneksi sosial tanpa harus merasa tersiksa jauh dari gawai.