BERITA TERKINI
Fitur AI Generatif di Smartphone Dikritik: Dinilai Bias dan Berpotensi Memfasilitasi Penipuan

Fitur AI Generatif di Smartphone Dikritik: Dinilai Bias dan Berpotensi Memfasilitasi Penipuan

Fitur kecerdasan buatan (AI) di smartphone terbaru dinilai menghadapi krisis kredibilitas. Sejumlah kritik menyebut, alih-alih menjadi solusi praktis bagi pengguna, fitur AI generatif—seperti pembuat gambar, sintesis teks, dan alat peringkasan—justru berpotensi menimbulkan dampak berbahaya, mulai dari menyebarkan stereotip rasis hingga memfasilitasi penipuan.

Kritik ini muncul di tengah ambisi perusahaan teknologi seperti Apple, Lenovo, dan Google yang disebut mengejar Artificial General Intelligence (AGI). Dalam pandangan para pengkritik, dorongan besar menuju AI yang lebih “umum” itu dikhawatirkan mengorbankan kualitas serta etika produk konsumen yang beredar saat ini.

Masalah yang disorot tidak terbatas pada akurasi yang kurang. Sejumlah pengujian diklaim menunjukkan perilaku AI yang lebih mengkhawatirkan. Salah satu contoh disebut terjadi pada Google Pixel 9a: saat diminta membuat wallpaper bertema “orang sukses”, AI menghasilkan visual stereotip berupa pria kulit putih muda mengenakan jas.

Kasus serupa juga disebut ditemukan pada Motorola Razr Plus (2024), salah satu perangkat yang mengusung fitur wallpaper generatif penuh. Pada perangkat ini, AI dinilai dapat menghasilkan konten yang bias dan sarat prasangka.

Para pengkritik menilai persoalan tersebut bukan sekadar “bug” atau cacat perangkat lunak biasa, melainkan cerminan masalah mendasar pada data pelatihan dan desain sistem. Dalam upaya mengejar AGI—mesin yang diharapkan memiliki kemampuan berpikir setara manusia—perusahaan teknologi disebut cenderung menoleransi kesalahan-kesalahan serius sebagai bagian dari “proses pembelajaran”.

Logika yang disorot para kritikus adalah bahwa untuk melatih model AI yang lebih unggul dan mencapai antarmuka agenik yang benar-benar cerdas, teknologi yang belum matang itu harus dipakai secara luas dan dikoreksi oleh jutaan pengguna. Pendekatan ini dikaitkan dengan arah pengembangan chipset generasi terbaru.

Snapdragon 8 Elite Gen 5, misalnya, dipromosikan bukan hanya dari sisi kecepatan komputasi, tetapi juga karena kemampuannya mengumpulkan data dari perangkat pengguna melalui edge computing untuk disalurkan ke cloud, dengan tujuan menyempurnakan model AI agenik di masa depan. Hal ini dinilai menunjukkan pergeseran prioritas dari sekadar peningkatan performa menjadi perluasan kapasitas pengumpulan data.

Namun, toleransi terhadap “kesalahan dalam proses pembelajaran” disebut memiliki batas. Kritik menegaskan konsumen tidak wajib menerima fitur yang secara aktif merugikan, menipu, atau memperkuat prasangka. Jika kemampuan ringkasan berita pada smartphone justru menciptakan fakta palsu atau mendistorsi kebenaran, fitur itu dinilai semestinya dinonaktifkan.

Demikian pula, fitur wallpaper generatif yang secara konsisten memunculkan stereotip rasis atau misoginis disebut sebagai konsep yang buruk dan tidak layak berada di perangkat konsumen. Kritik tersebut menguat dalam konteks manfaat nyata AI bagi pengguna smartphone sehari-hari yang masih dipertanyakan.

Smartphone masa kini dengan beragam fitur AI disebut belum terbukti secara jelas lebih unggul dibanding generasi sebelumnya dalam hal yang relevan bagi mayoritas pengguna. Selain itu, dorongan pasar juga dinilai belum kuat: disebut tidak ada pasar yang benar-benar mencari “ponsel AI terbaik”, sehingga pengembangan AI lebih terlihat didorong sisi pasokan perusahaan teknologi ketimbang kebutuhan pengguna.

Di balik kritik, terdapat pengakuan bahwa paradigma antarmuka smartphone saat ini—yang bertumpu pada layar sentuh kapasitif monolitik dengan sedikit kontrol fisik—dianggap tidak ideal. Antarmuka itu dinilai menawarkan terlalu banyak kemungkinan input, di mana sebagian besar justru berujung pada pilihan yang tidak efisien.

Dibanding perangkat seperti BlackBerry dengan keyboard fisik QWERTY, navigasi smartphone modern disebut lebih rumit. Karena kemungkinan kembali ke tombol fisik dianggap kecil, antarmuka yang dikendalikan AI agenik dipandang sebagai langkah logis berikutnya. Untuk menuju ke sana, perbaikan terhadap model AI seperti Siri dan Gemini dinilai mutlak, dan proses pelatihan disebut membutuhkan partisipasi pengguna dalam skala besar untuk mengoreksi kesalahan.

Meski begitu, komitmen memperbaiki teknologi tidak boleh disamakan dengan penerimaan tanpa syarat terhadap semua fitur baru. Kritik menekankan perlunya garis etika yang jelas: fitur yang terbukti berbahaya semestinya ditarik dan dikembalikan ke tahap pengembangan, bukan dibiarkan beredar dengan alasan “pembelajaran”.

Industri smartphone sendiri disebut berada dalam fase eksperimen dan koreksi yang intens, dengan strategi vendor yang berbeda-beda. Sebagian memilih menambah fitur AI baru, sementara yang lain memprioritaskan konsolidasi dan stabilitas—sebuah langkah yang dibandingkan dengan strategi “Snow Leopard” Apple di masa lalu yang menekankan optimasi ketimbang penambahan fitur.

Kompetisi juga terus berubah dengan hadirnya pemain yang berfokus pada AI. Kolaborasi antara ByteDance dan ZTE untuk mengembangkan ponsel AI generasi kedua yang ditargetkan rilis pada 2026 disebut menunjukkan perlombaan masih panjang, sekaligus membuka peluang untuk belajar dari kesalahan generasi pertama.

Tantangan lain yang disorot adalah konsistensi performa. Ambisi menghadirkan AI yang lebih cerdas dan agenik menuntut sumber daya komputasi dan memori besar. Namun, industri juga menghadapi keterbatasan pasokan dan tekanan harga komponen, yang dapat memaksa pengoptimalan dan efisiensi alih-alih sekadar meningkatkan spesifikasi.

Ke depan, arah perkembangan smartphone AI dinilai bergantung pada cara perusahaan menanggapi kritik mendasar ini: apakah tetap memprioritaskan peluncuran fitur baru yang menarik perhatian meski bermasalah, atau mengambil langkah mundur untuk memastikan fondasi etika dan akurasi lebih kokoh. Keputusan tersebut dipandang akan memengaruhi reputasi merek besar sekaligus menentukan apakah AI akan benar-benar memberdayakan pengguna atau justru menambah masalah dalam keseharian digital.