Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian banyak dimanfaatkan kreator konten untuk membantu proses produksi, mulai dari brainstorming hingga otomatisasi kerja. Namun, penggunaan AI tetap perlu disertai etika agar tidak menimbulkan dampak negatif, termasuk risiko misinformasi.
Dalam pembuatan konten, relasi dengan audiens dan hubungan nyata antarmanusia menjadi unsur penting. Kreator konten idealnya membangun kepercayaan. Karena itu, pemakaian AI yang tidak tepat—misalnya tanpa konteks yang jelas—dapat membuat konten keliru dianggap sebagai peristiwa nyata dan memicu misinformasi.
Berikut sejumlah panduan etika penggunaan AI bagi kreator konten.
1. Menjunjung nilai kemanusiaan
Pada dasarnya AI adalah alat bantu. Teknologi ini dapat mendukung brainstorming dan pekerjaan otomatis, tetapi tidak dapat menggantikan kreativitas manusia maupun memiliki kepekaan terhadap nilai kemanusiaan secara mandiri. Tanggung jawab atas dampak konten berbantuan AI tetap berada pada kreator.
UNESCO merangkum rekomendasi panduan penggunaan AI yang mendorong nilai dan prinsip kemanusiaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain memastikan konten tidak mencederai harga diri manusia, menghargai keberagaman serta kebebasan berpendapat, menjaga inklusivitas dan tidak mengeksploitasi kelompok rentan, menerapkan prinsip keadilan dan antidiskriminasi, serta tidak membuat konten yang mempromosikan rasialisme, memprovokasi perpecahan, atau sengaja menipu orang lain. Kreator juga perlu memastikan konten tidak membahayakan orang lain, termasuk dalam aspek keamanan, privasi, dan perlindungan data pribadi.
2. Mengutamakan transparansi
Salah satu bentuk misinformasi yang banyak ditemukan di media sosial adalah konten AI yang tidak diberi label. Tanpa label, konteks, dan kredit yang jelas, konten AI dapat disalahpahami sebagai kejadian nyata.
Karena itu, kreator konten perlu menjelaskan secara terbuka kepada audiens bahwa karya mereka dibuat dengan bantuan AI. Keterbukaan mengenai keterlibatan AI dalam proses produksi dinilai dapat membantu membangun kepercayaan, sekaligus membuat audiens memahami peran teknologi dalam pembuatan konten.
3. Memeriksa ulang output AI
Model AI mempelajari pola dari data pelatihan dan masukan manusia, yang dapat mengandung bias sosial. Akibatnya, AI berpotensi tidak mewakili kelompok tertentu secara adil atau justru menekankan stereotip.
Untuk mencegah bias dan kesalahan, kreator perlu memeriksa kembali hasil keluaran AI. AI tidak sempurna, sehingga verifikasi dan pengecekan ulang sebelum publikasi menjadi langkah penting.
4. Menjaga orisinalitas
AI bekerja dengan memanfaatkan data yang sudah ada. Karena itu, kreator perlu memastikan konten tetap menonjolkan orisinalitas. Keterhubungan audiens dengan kreator tidak hanya dipengaruhi isu yang diangkat, tetapi juga ciri khas kreatornya.
AI tidak dapat meniru secara utuh gaya bahasa dan karakter unik setiap individu. Peran kreator adalah menjaga kekhasan tersebut, dengan AI sebagai alat pendukung.
5. Menghormati hak kekayaan intelektual
AI dilatih menggunakan data yang terkadang memiliki hak cipta. Dalam setahun belakangan, warganet ramai membuat gambar berbasis AI dengan ciri khas atau trademark Studio Ghibli, rumah produksi anime asal Jepang yang dikenal menjaga Hak Kekayaan Intelektual (HKI) secara ketat. Fenomena ini memicu polemik di ranah seni, teknologi, dan hukum.
Secara hukum, perlindungan HKI dalam penggunaan AI masih menjadi area abu-abu, terutama ketika trademark seniman yang masih hidup digunakan dalam model AI. Karena itu, kreator konten perlu berhati-hati dan menghargai HKI. Meski gambar atau video berbasis AI dapat dibuat dengan cepat dan mudah, konten yang dihasilkan tetap perlu dipastikan tidak melanggar hak pihak lain.