BERITA TERKINI
Etika Digital Perlu Ditanamkan Sejak SD di Tengah Meningkatnya Penggunaan Gawai

Etika Digital Perlu Ditanamkan Sejak SD di Tengah Meningkatnya Penggunaan Gawai

Kemajuan teknologi digital kian memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Di tingkat sekolah dasar, anak-anak yang sebelumnya lebih dekat dengan buku gambar dan permainan tradisional kini semakin terbiasa menggunakan gawai, baik untuk belajar maupun bermain. Perubahan ini membawa manfaat, namun juga memunculkan risiko apabila tidak disertai pemahaman etika digital.

Etika digital dipahami sebagai seperangkat prinsip yang mengatur perilaku seseorang saat menggunakan teknologi dan beraktivitas di ruang digital. Cakupannya antara lain cara berinteraksi di media sosial, menjaga keamanan data pribadi, serta menghormati hak cipta dan privasi orang lain. Pada praktiknya, masih banyak pelajar sekolah dasar yang belum memahami batasan tersebut. Mereka dapat mengunggah konten tanpa pertimbangan, mengambil gambar tanpa izin, atau menyalin informasi dari internet tanpa menyebutkan sumber.

Kondisi itu dinilai bukan semata kesalahan anak, melainkan juga terkait kurangnya pendidikan etika digital sejak dini. Padahal, masa sekolah dasar merupakan fase penting pembentukan karakter dan kebiasaan. Pembiasaan menggunakan teknologi secara bijak sejak usia awal dinilai dapat membantu anak tumbuh menjadi pengguna digital yang bertanggung jawab.

Pengenalan etika digital juga berkaitan dengan aspek perlindungan diri di dunia maya. Dengan memahami pentingnya menjaga informasi pribadi, anak diharapkan lebih terlindungi dari berbagai risiko seperti perundungan siber maupun penipuan daring. Selain itu, etika digital dapat menumbuhkan sikap saling menghargai dalam komunikasi daring serta mencegah kebiasaan buruk, termasuk plagiarisme dan berbagi konten yang tidak pantas.

Upaya menanamkan etika digital membutuhkan peran bersama sekolah dan orang tua. Sekolah dapat memasukkan materi etika digital dalam pelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler, misalnya melalui simulasi penggunaan media sosial yang sehat. Sementara itu, orang tua dapat memberi teladan di rumah dengan menunjukkan perilaku digital yang sopan, seperti tidak membagikan hoaks dan merespons komentar negatif secara bijak.

Kolaborasi antara sekolah dan keluarga dinilai penting agar nilai-nilai etika digital diterapkan secara konsisten. Etika digital juga dipandang tidak dapat diajarkan secara instan, melainkan perlu dibangun bertahap dan berkelanjutan. Dengan bekal tersebut, pelajar SD diharapkan mampu menghadapi tantangan ruang digital secara lebih bijak dan bertanggung jawab, sekaligus menjadi generasi yang cakap teknologi dan beretika.