Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memunculkan kegelisahan baru bagi sebagian penulis, terutama terkait kepercayaan pembaca terhadap orisinalitas karya. Seorang penulis mengaku semakin sedih dan gelisah karena tulisan-tulisannya di media sosial kerap diragukan, dengan anggapan bahwa semuanya merupakan hasil generate AI.
Penulis tersebut menegaskan sikapnya yang menolak mempublikasikan tulisan yang dibuat dengan bantuan AI. Di tengah maraknya penggunaan teknologi ini, ia menyebut AI sebagai “Akal Imitasi”, istilah yang menurutnya merefleksikan persoalan persepsi. Kata “imitasi” kerap diasosiasikan dengan sesuatu yang palsu, kurang inovatif, atau bernilai rendah, sehingga memengaruhi cara sebagian orang memandang konten yang diduga dibuat oleh mesin.
Istilah “Akal Imitasi” disebutnya pernah ia temui saat melihat unggahan foto edisi cetak sebuah koran yang memuat judul “Akal Imitasi untuk Urai Kemacetan di Jakarta” pada Sabtu, 5 Juli 2025. Unggahan itu, menurutnya, menguatkan pandangannya bahwa istilah tersebut pantas disematkan pada model AI yang kini ramai digunakan di Indonesia.
Dalam pengamatannya, konten berbasis AI semakin memenuhi jejaring media sosial. Beragam hasil olahan AI memang dapat mengundang kekaguman sesaat, namun pada saat yang sama memunculkan keraguan baru terhadap karya tulis. Ia menilai, sebelum era AI, pembaca cenderung menikmati tulisan dengan penghayatan penuh. Kini, tulisan yang beredar—terutama dari penulis baru—lebih mudah dicurigai: apakah benar hasil pemikiran dan perenungan, atau sekadar output dari mesin.
Keraguan itu, menurutnya, tidak hanya datang dari dirinya sebagai penulis, tetapi juga dari pembaca. Ia menuturkan pernah mengalami tuduhan bahwa tulisannya merupakan hasil prompt, yang ia rasakan seperti dituduh mencuri. Stigma tersebut dinilainya lebih berat menimpa penulis pemula dibanding penulis yang sudah mapan.
Ia juga menyoroti ironi lain: tulisan yang rapi, terstruktur, dan berbahasa baik justru lebih mudah dicap sebagai karya AI. Dalam situasi seperti itu, ia mempertanyakan bagaimana penulis dapat mempertahankan kualitas tanpa dicurigai, karena memperburuk struktur atau ejaan jelas bukan pilihan.
Di sisi lain, ia menilai ketergantungan pada AI juga menimbulkan persoalan etika, terutama ketika teknologi diposisikan seolah dapat menggantikan pikiran dan suara penulis dalam menyampaikan pesan kepada pembaca. Ia membandingkan dengan masa sebelum AI, ketika penulis perlu meluangkan waktu untuk membaca dan menelusuri referensi demi memperkaya tulisan. Kini, upaya tersebut menurutnya kerap terasa “tak bernilai” ketika pembaca lebih dulu meragukan keaslian karya.
Penulis itu juga menyinggung soal otoritas dan kepercayaan publik. Ia mempertanyakan mengapa masyarakat cenderung percaya pada tokoh atau ilmuwan terkenal, meski pernyataannya belum tentu benar, sementara orang biasa yang jujur justru kerap diragukan. Ia memberi contoh, bila seorang profesor menyatakan air hangat dapat menyembuhkan banyak penyakit, banyak orang cenderung percaya karena pengaruh otoritas, meskipun secara ilmiah klaim tersebut belum tentu tepat.
Di tengah disrupsi teknologi, kegelisahan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi penulis dalam menjaga etika dan integritas, sekaligus mempertahankan kepercayaan pembaca pada karya yang dibuat secara mandiri.