Di era Artificial Intelligence (AI) 2026, teknologi digital kian melekat dalam keseharian mahasiswa. Saat mendapat tugas kuliah, banyak yang kini lebih dulu beralih ke perangkat digital—mulai dari mencari referensi, merangkum materi, hingga membantu menyelesaikan tugas—yang dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Bagi generasi Z yang sejak kecil akrab dengan internet, pola belajar seperti ini dinilai wajar. Namun, kemudahan tersebut memunculkan pertanyaan: apakah teknologi membuat mahasiswa semakin pintar, atau justru semakin bergantung?
Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat penetrasi internet di Indonesia telah melampaui 78 persen populasi, dengan kelompok usia 15–24 tahun menjadi pengguna paling aktif. Rata-rata generasi muda Indonesia juga disebut menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari untuk terhubung dengan internet.
Aktivitas digital yang umum dilakukan generasi muda meliputi penggunaan media sosial, menonton video edukatif dan hiburan, memanfaatkan berbagai tools berbasis AI untuk tugas sekolah dan kuliah, serta melakukan transaksi melalui e-commerce dan layanan keuangan digital.
Di satu sisi, situasi ini menunjukkan kemampuan adaptasi digital yang tinggi. Mahasiswa dapat belajar lebih cepat, mengakses informasi dari sumber global, dan memahami materi kompleks melalui cara yang lebih interaktif.
Namun di sisi lain, kemudahan memperoleh jawaban instan memunculkan kekhawatiran. Sejumlah pengamat pendidikan menilai ketergantungan pada teknologi, terutama AI, berpotensi membuat mahasiswa kurang terbiasa melakukan analisis mendalam. Diskusi akademik juga dikhawatirkan berkurang karena proses belajar semakin banyak dilakukan secara individual melalui perangkat digital.
Meski begitu, AI juga dinilai membawa manfaat bagi pendidikan. Mahasiswa dapat mengakses literatur global lebih cepat, memanfaatkan sistem pembelajaran adaptif berbasis data, hingga menggunakan simulasi digital untuk memahami berbagai konsep teknologi.
Mahasiswa di jurusan seperti teknologi informasi, sistem informasi, maupun bisnis digital disebut semakin terbiasa menggunakan tools yang juga dipakai di dunia industri. Namun, kebutuhan dunia kerja tidak berhenti pada kemampuan memakai teknologi. Perusahaan dinilai mencari talenta yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, serta memahami cara memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi.
Di sektor fintech dan ekonomi digital, misalnya, perusahaan membutuhkan individu dengan kemampuan problem solving, pola pikir berbasis data, literasi digital yang kuat, serta pemahaman etika penggunaan teknologi. Artinya, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna, tetapi juga perlu memahami sistem di balik teknologi dan mampu mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi dipandang berperan menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemampuan berpikir kritis. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang melatih analisis, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
Salah satu pendekatan tersebut diterapkan oleh Cyber University yang dikenal sebagai The First Fintech University in Indonesia. Kampus ini mengintegrasikan pembelajaran teknologi dengan pengalaman industri melalui program studi seperti Sistem dan Teknologi Informasi, Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Bisnis Digital, serta Digital Entrepreneur (Kewirausahaan).
Cyber University juga memiliki Company Learning Program (CLP) 3+1, yakni skema tiga tahun kuliah dan satu tahun magang. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memperoleh pengalaman kerja langsung di perusahaan sebelum lulus.
Pada akhirnya, ketergantungan digital tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Teknologi dapat menjadi alat bantu belajar yang kuat bila digunakan secara bijak. Tantangan utamanya adalah menjaga agar mahasiswa tetap mampu berpikir mandiri, kritis, dan kreatif di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi.
Ke depan, bukan hanya teknologi yang paling canggih yang menentukan, melainkan manusia yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi dan inovasi yang bermanfaat.