BERITA TERKINI
Enam Teknologi AI dari China yang Disebut Menantang Dominasi AS

Enam Teknologi AI dari China yang Disebut Menantang Dominasi AS

China semakin menonjol dalam persaingan teknologi global, terutama di bidang kecerdasan buatan (AI). Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah inovasi AI dari Negeri Tirai Bambu ramai dibicarakan, mulai dari DeepSeek dan Manus AI hingga model-model baru dari Baidu, Alibaba, Tencent, dan ByteDance.

Deretan teknologi ini kerap dipandang sebagai cerminan ambisi China untuk menyaingi dominasi Amerika Serikat di industri AI. Di tengah sanksi dan pembatasan teknologi dari AS sejak era Presiden Donald Trump, China justru dinilai kian agresif membangun ekosistem AI-nya sendiri.

Berikut enam teknologi AI asal China yang menjadi sorotan.

1. DeepSeek

DeepSeek menjadi salah satu gebrakan besar China di ranah AI. Dikembangkan startup High Flyer dari Hangzhou yang dipimpin Liang Wenfeng, DeepSeek diposisikan sebagai penantang pemain besar seperti OpenAI dan Google.

Sejak diluncurkan, DeepSeek sempat menjadi aplikasi gratis teratas di Apple App Store di 111 negara dan meraih peringkat pertama di Google Play Store di 18 negara. Popularitasnya didorong kemampuan menjawab pertanyaan, menganalisis data, hingga membuat konten kreatif dengan efisiensi dan kecepatan yang menonjol.

DeepSeek mengandalkan dua model utama, yakni DeepSeek V3 dan DeepSeek R-1. Model V3 yang dirilis pada Desember 2024 menggunakan arsitektur Mixture-of-Experts (MoE) dengan total 671 miliar parameter, namun hanya 37 miliar parameter yang diaktifkan per token untuk efisiensi komputasi. Satu bulan setelahnya, DeepSeek meluncurkan R-1 yang disebut memiliki kemampuan bernalar lebih kompleks.

R-1 juga disebut dikembangkan dengan chip AI berspesifikasi rendah, tetapi tetap mampu menjalankan tugas kompleks seperti matematika tingkat lanjut, logika berantai, dan pemrograman. Model ini dilatih selama dua bulan dengan biaya sekitar 6 juta dolar AS (sekitar Rp 97 miliar), dibandingkan biaya pengembangan GPT-4 yang disebut sekitar 63 juta dolar AS.

Dampaknya sempat terasa di pasar. Pada Januari 2025, lonjakan popularitas DeepSeek disebut memicu reaksi ekstrem, dengan saham Nvidia turun hampir 17 persen dalam satu hari dan kehilangan nilai pasar 588,8 miliar dolar AS.

2. Manus AI

Manus AI merupakan agen AI otonom yang dikembangkan startup Monica dan diluncurkan pada 6 Maret 2025. Teknologi ini dirancang untuk menjalankan tugas kompleks secara mandiri, tanpa instruksi berulang dari pengguna.

Berbeda dengan asisten AI tradisional yang membutuhkan arahan langkah demi langkah, Manus AI diklaim mampu merencanakan, mengeksekusi, hingga menyelesaikan pekerjaan secara otomatis. Contohnya mencakup penulisan laporan, analisis data, pembuatan konten, hingga perencanaan perjalanan.

Manus AI dapat mengeksekusi tugas di cloud bahkan ketika pengguna sedang offline. Sistem ini mendukung berbagai format data seperti teks, gambar, dan kode, serta dapat terintegrasi dengan alat eksternal seperti browser dan database. Manus AI juga disebut terus belajar dari interaksi untuk memberikan respons yang lebih personal dan efisien.

Dari sisi arsitektur, Manus AI menggunakan pendekatan multi-agen yang digambarkan seperti manajer yang mengatur tim spesialis. Sistem ini dapat memecah tugas besar menjadi bagian lebih kecil yang dikerjakan paralel. Pengguna juga bisa memantau proses kerja secara real-time melalui antarmuka khusus untuk transparansi dan kontrol.

3. Baidu ERNIE

ERNIE (Enhanced Representation through Knowledge Integration) adalah rangkaian model AI dari Baidu. Versi terbaru, ERNIE X1 dan ERNIE 4.5, diumumkan pada Maret 2025 dengan penekanan pada kemampuan multimodal dan penalaran tingkat tinggi.

ERNIE X1 disebut unggul menyelesaikan masalah kompleks dengan pendekatan logis bertahap, termasuk kemampuan merencanakan, menilai berbagai kemungkinan, dan menggunakan alat bantu secara mandiri. Penggunaannya mencakup menulis, meringkas dokumen, membaca kode, hingga memahami gambar.

Sementara ERNIE 4.5 adalah model multimodal murni yang dapat mengolah teks, gambar, audio, dan video dalam satu kerangka. Model ini juga disebut mampu mengenali konteks konten internet seperti meme dan satire, serta lebih andal dalam mengurangi informasi menyesatkan.

Keduanya didukung teknologi seperti Progressive Reinforcement Learning dan Mixture-of-Experts (MoE) untuk efisiensi belajar dan eksekusi. Baidu juga berencana merilis model ini sebagai open-source pada pertengahan 2025.

4. Alibaba Qwen

Alibaba Qwen adalah rangkaian model AI dari Alibaba Group yang dirancang untuk bersaing di tengah perkembangan AI global. Versi terbaru, Qwen 2.5, diluncurkan pada awal 2025 dan hadir dalam beberapa varian, termasuk Qwen 2.5-Max dan Qwen 2.5-VL.

Qwen 2.5-VL dirancang untuk memahami dan memproses berbagai jenis data, mulai dari teks, gambar, grafik, hingga video berdurasi panjang. Model ini juga disebut mampu mengonversi data tidak terstruktur menjadi format yang lebih terorganisir seperti JSON, serta berperan sebagai agen visual untuk membantu tugas praktis seperti memesan tiket pesawat atau mengecek kondisi cuaca.

Adapun Qwen 2.5-Max menonjol pada penalaran logis dan pemecahan masalah. Dalam sejumlah pengujian, model ini disebut melampaui performa GPT-4o dalam skenario yang membutuhkan deduksi logis dan berpikir kritis. Karena itu, model ini diarahkan untuk kebutuhan bisnis, seperti peningkatan layanan pelanggan dan otomasi alur kerja.

5. Tencent Hunyuan-T1

Tencent memperkenalkan Hunyuan-T1 sebagai model yang diposisikan untuk bersaing dalam persaingan AI di China, termasuk dengan DeepSeek. Dalam pengumuman melalui akun WeChat, Tencent menyebut Hunyuan T1 memiliki respons lebih cepat dan performa lebih baik dalam mengolah dokumen teks panjang, dengan hasil yang rapi, logis, dan mudah dipahami.

Tencent juga mengklaim Hunyuan T1 memiliki tingkat kesalahan atau hallucination yang sangat rendah. Dalam bagan perbandingan yang dipublikasikan perusahaan, model ini disebut mengungguli sejumlah model AI, termasuk DeepSeek R1, GPT 4.5, dan o1 dari OpenAI, terutama pada penguasaan pengetahuan dan penalaran logis.

Hunyuan T1 disebut mencatat skor 87,2 untuk kategori knowledge, mengungguli DeepSeek dengan 84,0. Untuk kategori reasoning, T1 meraih 93,1, sedikit di atas DeepSeek dengan 92,2. Tolok ukur yang digunakan mencakup uji standar seperti MMLU-pro, CEval, AIME, dan Zebra Logic, dengan pengujian dalam bahasa Mandarin dan Inggris serta soal matematika tingkat kompetisi.

Persaingan yang ketat turut mendorong Tencent memperbesar investasi AI. Pada Maret 2025, perusahaan mengumumkan rencana peningkatan belanja modal khusus pengembangan AI, melanjutkan ekspansi yang telah dimulai sejak 2024.

6. Goku AI dari ByteDance

ByteDance, induk TikTok, meluncurkan Goku AI, model open-source untuk menghasilkan gambar dan video realistis. Model ini dirancang untuk kebutuhan konten dan pemasaran, termasuk pembuatan influencer digital, avatar promosi, hingga demo produk.

Goku menggunakan teknologi Rectified Flow Transformer (RFT) untuk menyusun video secara bertahap agar transisi lebih halus dan natural, sekaligus mengurangi noise dan meningkatkan ketajaman visual sehingga hasilnya mendekati video nyata.

Dalam pengujian, Goku AI disebut mencetak skor tinggi di beberapa benchmark seperti GenEval (0,76), DPG-Bench (83,65), dan VBench (84,85), serta mengungguli pesaing seperti Luma dan Open-Sora. Goku AI dapat diunduh dan dijalankan melalui GitHub, namun memerlukan GPU berkapasitas tinggi untuk performa optimal.

Kemampuan menghasilkan konten hiper-realistis membuat Goku disebut sebagai pesaing bagi OpenAI Sora dan Google Veo, sekaligus menegaskan pentingnya penggunaan AI secara etis di era digital.