Penggunaan gadget yang kian lekat dengan keseharian anak-anak membawa manfaat sekaligus risiko. Pemakaian berlebihan dinilai dapat mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan interaksi sosial, hingga memicu kecanduan digital. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, Raihan Lutfiah Fajrin, menggagas program kerja individu bertajuk “Sosialisasi Edukasi Temanku Bukan Cuma Gadget”.
Kegiatan itu digelar pada Kamis, 7 Agustus 2025, di SD Negeri Sukorini 2, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten. Sosialisasi berlangsung interaktif dengan melibatkan siswa dalam sejumlah aktivitas kreatif.
Berbeda dari sosialisasi konvensional, Raihan menyampaikan materi ringan mengenai dampak positif dan negatif penggunaan gadget, lalu mengajak siswa mengikuti permainan edukatif membuat bentuk dari clay polimer. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya melatih kreativitas dan motorik halus, tetapi juga memberi pengalaman bahwa kebersamaan dan kesenangan dapat dibangun tanpa harus menatap layar gawai.
“Anak-anak terlihat sangat antusias. Banyak dari mereka yang awalnya cenderung pasif, jadi lebih berani berinteraksi dan bereksplorasi,” ujar Raihan.
Selain membuat bentuk dari clay polimer, kegiatan juga diselingi lomba mewarnai poster bertema anti penggunaan gadget berlebihan. Melalui karya visual itu, siswa diajak mengekspresikan pesan moral tentang pentingnya mengendalikan penggunaan ponsel pintar.
Pihak sekolah menyambut baik program tersebut. Kepala SD Negeri Sukorini 2, Siti, menilai kebiasaan siswa yang terlalu sering bermain HP menjadi salah satu tantangan dalam proses belajar mengajar. “Materi yang dibawa mahasiswa KKN ini sangat relevan. Kami memang sering menghadapi kasus siswa yang kurang fokus belajar karena terlalu sering bermain game. Pendekatan kreatif seperti ini sangat membantu membuka wawasan mereka,” tuturnya.
Guru kelas IV juga menyampaikan kegiatan semacam ini dapat menjadi alternatif bagi guru untuk mengarahkan anak agar lebih seimbang dalam belajar, bermain, dan menggunakan gadget.
Raihan menekankan pentingnya edukasi preventif sejak dini, terutama bagi siswa sekolah dasar yang sedang membangun kebiasaan. Menurutnya, sosialisasi ini bukan sekadar melarang, melainkan memberi pilihan aktivitas positif. “Anak-anak jadi tahu bahwa teman mereka bukan cuma gadget, tapi juga teman sebaya, permainan tradisional, aktivitas seni, dan banyak hal lain,” jelasnya.
Dalam kesempatan terpisah, psikolog pendidikan anak Dr. Santi Wardani, M.Psi., menilai program semacam ini penting karena anak belajar lebih efektif melalui pengalaman nyata. Ia menyebut aktivitas seperti clay polimer atau lomba kreatif dapat membantu menumbuhkan keterampilan sosial, kesabaran, serta daya imajinasi.
Melalui kegiatan tersebut, suasana kelas di SD Negeri Sukorini 2 disebut menjadi lebih hidup. Siswa belajar sambil bermain, berani bertanya, dan menemukan keseruan baru di luar layar ponsel.