JAKARTA – Akademisi Dr. Zulfitriany D Mustaka terpilih sebagai salah satu Ketua Tim Riset Program Bestari Saintek 2026 setelah lolos seleksi nasional. Ia termasuk dalam 4,9 persen ketua tim yang dinyatakan lolos, bersama 122 ketua tim dari 64 perguruan tinggi di Indonesia.
Mengusung semangat “Menyemai Tradisi dan Memanen Inovasi”, Dr. Zulfitriany menjalankan riset berbasis kearifan lokal yang menitikberatkan pemanfaatan limbah pertanian. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah tenun dengan pewarnaan alami yang diarahkan tidak hanya untuk mempertahankan tradisi, tetapi juga memperkuat motif kain melalui pengolahan limbah.
“Melalui inovasi ini, satu lembar kain mampu menyerap hingga 3–5 kilogram limbah pertanian. Ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga solusi lingkungan,” ujar Dr. Zulfitriany.
Riset tersebut telah dikembangkan sejak setahun terakhir dan disebut memberikan dampak sepanjang 2025. Timnya meraih tiga penghargaan, di antaranya masuk dalam 8 Inovasi Karya Anak Bangsa pendanaan LPDP serta mendapat undangan dalam kegiatan KSTI di Institut Teknologi Bandung pada 8 Agustus 2025.
Selain itu, Dr. Zulfitriany menjadi salah satu dari dua tim yang diliput khusus Humas LPDP untuk pembuatan Cerita Riset Inspiratif LPDP 2026. Timnya juga masuk dalam 15 Tim Riset Terbaik yang dinilai memiliki dampak luas dari sisi lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Pada 2026, lokasi riset difokuskan di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Dr. Zulfitriany menyebut dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting yang menguatkan langkah timnya saat menghadapi seleksi ketat dari total 2.600 proposal yang masuk secara nasional.
“Dukungan Bupati Selayar dan seluruh jajaran memberikan energi optimisme sejak awal. Saat kami masuk 500 besar, kami tetap yakin meski seleksi semakin ketat,” katanya.
Optimisme tersebut berbuah hasil ketika pada 13 Maret 2026 timnya kembali dinyatakan lolos dan memperoleh pendanaan riset LPDP untuk tahun berjalan.
Dalam program Bestari Saintek 2026, Dr. Zulfitriany mengembangkan inovasi baru berbasis limbah sabut kelapa. Limbah ini diolah menjadi media tanam berbentuk blok yang disebut ramah lingkungan dan memiliki nilai tambah untuk pasar ekspor.
Menurutnya, produk tersebut memiliki kandungan mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioprotektan dan stimulator pertumbuhan tanaman, sekaligus bernilai estetika sebagai penutup tanah (mulsa), terutama untuk tanaman indoor.
“Ini adalah bentuk hilirisasi riset yang kami dorong. Dari limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan siap ekspor,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang kolaborasi bagi mahasiswa, lembaga, maupun alumni di Kepulauan Selayar untuk terlibat dalam pengembangan riset tersebut.
Kontrak pendanaan riset disebut siap ditandatangani di Auditorium Graha Kemdiktisaintek, Jakarta, sebagai penanda awal implementasi program. Dr. Zulfitriany berharap riset yang dijalankan tidak berhenti pada tahap laboratorium, melainkan hadir sebagai solusi yang dirasakan masyarakat.
“Harapannya, riset ini tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar hadir sebagai solusi yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tutupnya.