Perkembangan teknologi digital yang kian masif membuat data menjadi aset strategis di berbagai sektor. Di tengah perubahan ini, kebutuhan terhadap kemampuan mengolah data turut meningkat, seiring banyaknya aktivitas manusia yang menghasilkan data setiap hari.
Dosen Sains Data Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Sri Retnowati mengatakan data kini telah menjadi pusat dari dunia digital. Namun, ia menekankan bahwa data tidak serta-merta bernilai tanpa kemampuan analisis yang tepat.
“Data mentah tidak otomatis bernilai. Nilai data baru muncul ketika diolah menjadi insight yang relevan untuk pengambilan keputusan,” ujar Sri Retnowati dalam webinar bertajuk “Kerja dengan Data, Penghasilan Menjanjikan: Karier Paling Dicari di Dunia Digital”, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, keputusan berbasis data atau data-driven decision semakin menggantikan intuisi, baik dalam dunia bisnis, pemerintahan, maupun pendidikan. Karena itu, literasi dan keterampilan data dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi masa kini.
Dalam paparannya, Sri Retnowati menyebut sejumlah profesi di bidang data yang saat ini banyak dicari industri, antara lain Data Analyst, Data Scientist, Machine Learning Engineer, hingga Business Intelligence Analyst.
Ia menilai tingginya permintaan terhadap profesi tersebut dipicu oleh melimpahnya data yang belum diimbangi ketersediaan talenta yang mampu mengolah dan menerjemahkannya menjadi strategi.
“Kesenjangan antara data dan keputusan inilah yang membuat profesi data dibayar mahal dan memiliki peluang kerja global, termasuk sistem kerja jarak jauh,” jelasnya.
Sri Retnowati juga menekankan bahwa keterampilan data bukan kemampuan instan, melainkan investasi jangka panjang yang dapat dipelajari secara bertahap melalui berbagai jalur pendidikan maupun pembelajaran mandiri.
“Karier di bidang data adalah investasi masa depan. Di era digital ini, data skill bukan lagi nilai tambah, melainkan survival skill,” tegasnya.