Penggunaan gadget yang tidak terkontrol pada anak dinilai dapat berdampak luas terhadap kesehatan fisik, mental, hingga perkembangan sosial. Hal ini disampaikan dr. Abdi Dwiyanto P. S, Sp.A dalam siaran program Pengabdian Masyarakat di PRO1 RRI Makassar yang dipandu Arfan Yusri.
Dalam dialog tersebut, dr. Abdi menyoroti ketergantungan anak pada layar yang berpotensi menghambat interaksi sosial. Padahal, interaksi langsung dengan orang sekitar disebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan emosional anak, terutama pada usia dini.
Ia menjelaskan, paparan layar berlebihan bukan semata soal durasi, tetapi juga menyimpan risiko jangka panjang. Salah satunya terkait paparan blue light dari perangkat digital yang dapat mengganggu produksi hormon melatonin, sehingga kualitas tidur anak memburuk.
Selain itu, kebiasaan bermain gadget yang membuat anak kurang bergerak juga dinilai berkontribusi pada meningkatnya risiko obesitas, khususnya pada anak-anak di wilayah perkotaan, termasuk Makassar.
Dari sisi perkembangan kognitif dan bahasa, dr. Abdi menekankan bahwa interaksi satu arah dengan layar dapat memicu keterlambatan bicara (speech delay). Menurutnya, anak cenderung menjadi penerima informasi pasif tanpa stimulasi komunikasi dua arah yang diperlukan untuk mengasah kemampuan bahasa dan memperkaya kosakata.
dr. Abdi juga mengingatkan orang tua untuk mewaspadai tanda-tanda kecanduan digital. Ia menegaskan gadget tidak semestinya dijadikan “pengasuh” bagi anak. Ketika anak lebih memilih layar dibanding berinteraksi dengan lingkungan sekitar, kondisi itu disebut sebagai sinyal bahaya. Penggunaan yang tidak terukur, lanjutnya, dapat mengganggu sistem dopamin di otak anak, yang berdampak pada kesulitan berkonsentrasi, mudah cemas, hingga menurunnya minat pada aktivitas fisik.
Dampak psikologis lain yang dinilai kerap terabaikan adalah perilaku agresif dan kesulitan regulasi emosi. Anak yang sering terpapar konten instan tanpa pengawasan disebut cenderung memiliki ambang kesabaran rendah dan mudah mengalami tantrum ketika perangkat diambil, karena terbiasa dengan stimulasi cepat dari gim maupun video pendek.
Untuk mencegah berbagai dampak tersebut, dr. Abdi menyarankan penerapan aturan screen time yang ketat sesuai rekomendasi usia medis. Ia juga mendorong orang tua hadir secara utuh saat bersama anak tanpa terdistraksi oleh ponsel pribadi.
Menutup dialog, dr. Abdi mengajak orang tua memberikan pendampingan saat anak menggunakan gadget serta membangun komunikasi dua arah di rumah. Ia mencontohkan upaya menghidupkan kembali permainan tradisional dan memperbanyak interaksi hangat dalam keluarga sebagai langkah menjaga keseimbangan antara teknologi dan aktivitas dunia nyata.