BERITA TERKINI
Dokter di Malang: Kecanduan Gawai pada Anak Tak Hanya Picu Speech Delay, tetapi Juga Ubah Perilaku

Dokter di Malang: Kecanduan Gawai pada Anak Tak Hanya Picu Speech Delay, tetapi Juga Ubah Perilaku

MALANG — Penggunaan gawai secara berlebihan pada anak dinilai tidak hanya memicu keterlambatan bicara (speech delay), tetapi juga dapat berdampak pada perubahan perilaku. Hal ini disampaikan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RSUD Kota Malang, dr Nunik Eveline Hanoto, Sp.KFR, yang menyebut banyak pasien anak datang dengan gangguan perkembangan terkait paparan gadget yang berlebihan.

Menurut Nunik, sebagian besar pasien anak yang mengalami gangguan bicara atau keterlambatan bicara berkaitan dengan kecanduan gawai. “Sebagian besar pasien anak yang mengalami gangguan bicara atau keterlambatan bicara itu disebabkan kecanduan gawai,” kata Nunik, Selasa (7/4/2026).

Nunik menjelaskan, paparan layar seperti gadget dan televisi dalam durasi panjang dapat memengaruhi perkembangan otak anak, terutama pada usia dini. Dampaknya tidak berhenti pada aspek bahasa, tetapi juga dapat memicu perubahan perilaku.

Ia menyebut sejumlah perubahan yang kerap terlihat, seperti anak menjadi lebih emosional, sulit mengontrol diri, hingga mengalami kesulitan bersosialisasi. “Ada perubahan yang terjadi sehingga berdampak pada perilaku, seperti anak mudah emosi, tidak terkontrol, bahkan susah bersosialisasi,” ujarnya.

Nunik menambahkan, kondisi ini berisiko menjadi lingkaran yang sulit diputus karena anak semakin bergantung pada gadget.

Ia menekankan bahwa tiga tahun pertama kehidupan anak merupakan fase paling krusial dalam perkembangan otak. Pada periode ini, paparan gadget dan televisi yang berlebihan berpotensi mengganggu proses perkembangan tersebut. “Di tiga tahun pertama, kalau paparan gadget dan televisi berlebihan, itu bisa memengaruhi perkembangan otaknya,” kata dia.

Selain paparan layar, minimnya interaksi langsung juga dinilai membuat anak kehilangan kesempatan belajar bahasa secara optimal.

Dalam penanganannya, RSUD Kota Malang menyediakan terapi wicara dan terapi okupasi untuk membantu perkembangan anak. Terapi wicara difokuskan pada kemampuan komunikasi, sedangkan terapi okupasi membantu meningkatkan fokus, respons sensorik, dan motorik.

Meski demikian, Nunik menegaskan proses terapi tidak bisa instan dan memerlukan waktu panjang. “Tidak hanya 20 menit anak akan bisa bicara, butuh waktu panjang. Pola asuh dan lingkungan juga harus sejalan,” tegasnya.

Ia menekankan, keberhasilan penanganan sangat bergantung pada peran orangtua dalam mengatur penggunaan gadget di rumah. Orangtua disarankan mengganti waktu layar dengan aktivitas interaktif, seperti bermain, berbicara, hingga aktivitas fisik. “Gadget itu tidak bisa menggantikan peran orang tua. Seharusnya hanya menjadi alat bantu, bukan solusi utama,” ujarnya.