BERITA TERKINI
Disbudpar Berau Siapkan Integrasi Sidewi dan Aplikasi Jelajah untuk Data Wisata Real Time

Disbudpar Berau Siapkan Integrasi Sidewi dan Aplikasi Jelajah untuk Data Wisata Real Time

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menyiapkan penguatan sektor pariwisata melalui pengembangan sistem digital terpadu. Dua platform yang disiapkan adalah Sistem Informasi Destinasi Wisata Berau (Sidewi) dan aplikasi Jelajah Pariwisata Berau, yang akan disosialisasikan kepada para pengelola destinasi wisata di Berau.

Pengawas Kepariwisataan Disbudpar Berau, Andi, mengatakan sosialisasi resmi belum dilakukan. Namun, setelah momentum Lebaran, yang diperkirakan pada April, Disbudpar berencana mengundang seluruh pengelola destinasi untuk memperkenalkan sistem tersebut sekaligus mewajibkan penginputan data secara terintegrasi.

“Kalau kami prinsipnya belum terlalu memaksa, karena memang belum ada sosialisasi resmi. Tapi habis Lebaran nanti, kami akan undang semua pengelola. Di situ kami wajibkan untuk menginput seluruh informasi ke dalam aplikasi,” ujar Andi, Rabu (25/3).

Melalui sistem ini, Disbudpar berharap memperoleh data yang lebih akurat dan terukur mengenai kondisi serta perkembangan destinasi wisata di Berau. Andi menilai, selama ini angka kunjungan wisatawan kerap terlihat rendah dalam catatan data, meski kondisi di lapangan menunjukkan jumlah pengunjung cukup banyak.

“Dengan sistem ini nanti datanya real time. Jadi tidak lagi hanya perkiraan. Kita bisa lihat secara jelas berapa jumlah kunjungan, kondisi fasilitas, sampai keluhan dari wisatawan,” tambahnya.

Dalam skema yang disiapkan, Jelajah berfungsi sebagai dashboard berbasis mobile yang dapat diakses wisatawan, sedangkan Sidewi menjadi pusat pengelolaan data. Data yang diinput pengelola melalui Jelajah akan ditarik otomatis ke Sidewi untuk mencegah perbedaan informasi.

Disbudpar juga mewajibkan pelaku usaha seperti hotel dan penginapan untuk berpartisipasi aktif. Melalui aplikasi Jelajah, mereka diminta menginput data okupansi atau tingkat hunian secara berkala. Menurut Andi, langkah ini diperlukan untuk mendapatkan gambaran pergerakan wisatawan secara lebih utuh, tidak hanya berdasarkan tiket masuk destinasi.

“Dari situ nanti kita bisa lihat pergerakan wisatawan, tidak hanya dari tiket masuk destinasi, tapi juga dari tingkat hunian penginapan,” jelasnya.

Andi mencontohkan, data yang terkumpul dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan. Jika terdapat fasilitas, seperti toilet yang dibangun beberapa tahun lalu namun kini rusak, catatan tersebut bisa menjadi dasar pengajuan anggaran perbaikan ke Bapelitbang.

“Kalau kita punya data lengkap termasuk tingkat kunjungan dan penjualan, itu bisa jadi dasar kuat untuk usulan anggaran. Jadi tidak lagi hanya berdasarkan usulan biasa, tapi benar-benar berbasis data,” ujarnya.

Sementara itu, aplikasi Jelajah Pariwisata Berau disebut sudah tersedia di Playstore. Aplikasi ini memuat informasi bagi wisatawan, mulai dari rekomendasi destinasi terdekat, hotel dan penginapan, hingga kuliner yang tersebar di 100 kampung dan 10 kelurahan di Berau. Dengan integrasi informasi dalam satu platform, wisatawan diharapkan tidak perlu mencari referensi dari berbagai sumber terpisah.

“Semua sudah jadi satu di Jelajah. Jadi wisatawan lebih mudah mengakses informasi,” kata Andi.

Disbudpar turut menekankan pentingnya validasi data. Setiap informasi yang masuk akan diverifikasi sesuai bidang masing-masing, baik terkait destinasi wisata, akomodasi, maupun konten promosi, untuk menjaga keakuratan informasi yang diterima wisatawan.

Selain itu, fitur interaktif disiapkan untuk menampung masukan pengguna. Melalui kolom komentar, wisatawan dapat menyampaikan keluhan atau laporan, seperti persoalan kebersihan maupun jaringan yang kurang memadai. Masukan tersebut akan masuk ke server dan menjadi bahan evaluasi, termasuk dalam rapat koordinasi pariwisata.

“Dari situ kita bisa tahu apa saja yang menjadi keluhan wisatawan, dan itu akan kami tindaklanjuti,” ungkapnya.