Ajinomoto selama ini dikenal luas sebagai produsen bumbu penyedap rasa atau monosodium glutamate (MSG). Namun, perusahaan asal Jepang tersebut juga memiliki kontribusi penting dalam industri teknologi, terutama terkait pengembangan chip untuk kecerdasan buatan (AI).
Peran itu datang melalui material bernama Ajinomoto Build-up Film (ABF). Material ini disebut menjadi komponen krusial dalam proses advanced packaging chip modern. Tanpa ABF, produksi chip AI berperforma tinggi dinilai tidak dapat berjalan.
Menurut penjelasan yang dikutip dari situs WCCF Tech, ABF merupakan lapisan isolator tipis yang berfungsi sebagai penghubung antara chip silikon dan papan sirkuit (PCB). Material tersebut memungkinkan chip bekerja dengan kepadatan koneksi tinggi sekaligus menjaga stabilitas sinyal pada frekuensi tinggi.
Kebutuhan akan teknologi ini semakin menonjol pada chip AI generasi terbaru, termasuk akselerator yang digunakan di pusat data. Chip jenis ini memerlukan performa ekstrem, sehingga membutuhkan struktur packaging yang lebih kompleks dibanding chip konvensional.
Dalam penerapannya, penggunaan ABF pada chip AI dapat meningkat hingga 15–18 kali lipat dibandingkan komponen biasa. Peningkatan ini terjadi karena setiap paket chip membutuhkan banyak lapisan ABF untuk mendukung kebutuhan performa tinggi.
Seiring lonjakan kebutuhan AI secara global, permintaan ABF ikut meningkat tajam. Di sisi lain, produksi material tersebut masih sangat bergantung pada satu pemain utama, yaitu Ajinomoto melalui divisi teknologinya.
Kondisi itu menjadikan ABF sebagai salah satu titik krusial dalam rantai pasok industri semikonduktor. Jika pasokan tidak mencukupi, produksi chip AI berisiko terhambat, termasuk untuk GPU dan akselerator terbaru.
Ajinomoto disebut telah berupaya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi ekspansi tidak dapat dilakukan secara instan. Selain memerlukan investasi besar, perusahaan juga mempertimbangkan risiko kelebihan kapasitas apabila permintaan di masa depan menurun.
Untuk menghadapi keterbatasan pasokan, perusahaan teknologi besar mengambil langkah strategis, antara lain melalui pembayaran di muka (prepayment) dan kontrak jangka panjang guna mengamankan pasokan ABF.
Meski demikian, dengan pertumbuhan permintaan AI yang diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, pasokan ABF masih diprediksi akan tetap terbatas.