Adopsi gaya antarmuka pengguna (UI) ‘Liquid Glass’ yang identik dengan Apple kian marak ditemukan di sejumlah aplikasi Android. Tren ini memunculkan kekhawatiran dari sebagian pengamat teknologi karena dinilai dapat mengikis identitas visual Android yang selama ini dikenal fleksibel dan kaya opsi kustomisasi.
Stephen Headrick, penulis di Android Authority, menilai kemunculan desain tersebut di ekosistem Android sebagai perkembangan yang mengganggu. Ia menyampaikan kekecewaannya karena, menurutnya, persoalan utama muncul ketika pengembang menjadikan bahasa desain Apple sebagai standar, alih-alih memanfaatkan sistem desain Material 3 Expressive milik Google. Dampaknya, pengalaman penggunaan bisa terasa asing bagi pengguna Android, terutama mereka yang memakai perangkat seperti Google Pixel.
Dalam sebuah survei kecil yang dilakukan Android Authority, sebanyak 39% responden menyatakan menyadari keberadaan desain ‘Liquid Glass’ di aplikasi Android yang mereka gunakan. Sementara itu, 56% mengaku tidak menyadarinya, dan 6% mengatakan tidak terlalu memperhatikan desain.
Obsidian dan Telegram jadi contoh
Headrick menyoroti aplikasi pencatat Obsidian sebagai salah satu contoh implementasi yang paling mencolok. Setelah pembaruan terbaru, UI aplikasi ini dinilai sangat kental dengan nuansa iOS, mulai dari tombol mengambang berbentuk lingkaran di sudut kanan dan kiri atas layar, bilah mengambang di bagian bawah, hingga minimnya penggunaan warna. Headrick mengakui aplikasi tersebut terasa “native” dan cepat digunakan, tetapi ia berharap ada upaya agar pengalaman pemakaian lebih sesuai dengan karakter Android.
Ia mengusulkan penyesuaian kecil, seperti mengubah bentuk tombol mengambang menjadi “lingkaran yang sedikit pipih” dan menghilangkan bayangan di bawahnya, sebagaimana lazim pada tombol di Android. Selain itu, ia juga berharap Obsidian mengintegrasikan sistem warna Material You, yang memungkinkan tema UI aplikasi mengikuti pilihan warna perangkat pengguna—seperti yang disebutnya sudah diterapkan dengan baik oleh Gmail dan Google Messages.
Aplikasi lain yang disorot adalah Telegram. Menurut Headrick, pembaruan desain besar pada aplikasi Android Telegram sekilas terlihat seperti “versi iOS yang diperlemah.” Namun, setelah ditelusuri, ia menilai inkonsistensi desain menjadi semakin jelas. Pada obrolan pribadi, Telegram masih mempertahankan desain lama di bagian atas layar, sementara bilah atas pada saluran kini lebih menyerupai bahasa desain iOS. Headrick mengkritik kondisi tersebut sebagai campuran elemen Liquid Glass dan sistem desain proprietary yang membuat tampilan aplikasi terasa tidak rapi.
Efisiensi biaya dan tantangan Material 3 Expressive
Headrick mengakui pengembang memiliki kebebasan untuk menciptakan sistem desain sendiri demi konsistensi merek lintas platform, seperti yang dilakukan Robinhood. Namun, membangun sistem desain kustom memerlukan sumber daya besar, sehingga banyak pengembang lebih memilih memanfaatkan alat bawaan platform.
Ia menilai kecenderungan menggunakan satu desain di berbagai platform kemungkinan dipengaruhi pertimbangan efisiensi biaya. Meski demikian, ia berharap ada perhatian yang lebih besar terhadap pengalaman pengguna Android.
Di sisi lain, Google telah memperkenalkan Material 3 Expressive hampir setahun lalu dengan gagasan desain yang lebih berani. Namun, menurut Headrick, potensi penuhnya belum terlihat, bahkan pada aplikasi buatan Google sendiri.