Kementerian Pendidikan dan Pelatihan menetapkan aturan baru yang membatasi jumlah preferensi (nguyện vọng) pendaftaran menjadi maksimal 15 pilihan. Kebijakan ini ditujukan agar calon mahasiswa menyusun pilihan secara lebih terukur dan realistis, sekaligus mengurangi kecenderungan mendaftar secara acak sebagai “cadangan”.
Direktur Departemen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, Prof. Nguyen Tien Thao, menjelaskan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, ketika jumlah preferensi tidak dibatasi, data menunjukkan sebagian besar kandidat tetap hanya mengajukan 1–5 pilihan. Mayoritas pelamar yang berhasil diterima berada pada preferensi kedua hingga keempat, sementara sekitar 35,5% diterima pada pilihan pertama.
Menurut data yang dipaparkan, sekitar 1,5% kandidat mendaftar mulai dari pilihan ke-10 ke atas, namun hanya 0,34% yang akhirnya diterima. Bahkan ketika diterima pada pilihan-pilihan tersebut, hanya sedikit yang mengonfirmasi pendaftaran dan banyak yang memilih menunggu putaran penerimaan tambahan. Hal ini dinilai menunjukkan bahwa sebagian kandidat mencantumkan sejumlah pilihan terutama sebagai rencana cadangan, tetapi penerimaan pada pilihan itu tidak otomatis berujung pada pendaftaran.
Prof. Nguyen Tien Thao menilai pembatasan jumlah pilihan dapat membantu kandidat mengenali kemampuan dan kekuatan diri secara lebih jelas. Dengan demikian, calon mahasiswa didorong untuk menelusuri lingkungan kampus, program pelatihan, serta universitas yang paling sesuai, ketimbang mengajukan pilihan berdasarkan keberuntungan. Ia juga menilai pendekatan ini mendorong perencanaan studi yang lebih serius serta persiapan ujian yang lebih cermat.
Kementerian, berdasarkan data yang dimiliki, juga menyimpulkan bahwa membolehkan terlalu banyak pilihan dapat menimbulkan pemborosan bagi masyarakat, komunitas, keluarga, dan lembaga pendidikan. Pembatasan menjadi 15 pilihan diharapkan membuat kandidat lebih percaya diri, memiliki pola pikir yang lebih baik, dan merasa lebih nyaman selama ujian, serta membantu menenangkan orang tua.
Terkait strategi menyusun preferensi agar peluang diterima meningkat, Prof. Nguyen Tien Thao menekankan pentingnya penilaian yang akurat terhadap kemampuan diri. Kandidat diminta menimbang sejauh mana kesiapan belajar, persiapan untuk perguruan tinggi, persiapan menghadapi ujian kelulusan sekolah menengah, serta metode belajar yang akan digunakan ke depan.
Saat menyusun pilihan, ia menyarankan kandidat membaginya ke dalam tiga kelompok: pilihan impian, pilihan yang sesuai kemampuan, dan pilihan aman. Dengan pengelompokan tersebut, kandidat diharapkan dapat menyusun rencana pendaftaran yang lebih terarah.
Wakil Rektor Universitas Phenikaa, Prof. Madya Dr. Nguyen Phu Khanh, menambahkan bahwa calon mahasiswa sebaiknya memprioritaskan jurusan yang sesuai kemampuan. Ia menilai proses perkuliahan tidak mudah, sehingga memilih kampus populer namun mengambil jurusan yang tidak diminati berisiko membuat mahasiswa menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Menurutnya, ketika mahasiswa memilih bidang studi yang tepat dan disukai, mereka cenderung memiliki motivasi, semangat, dan tekad lebih besar untuk bertahan dalam proses belajar. Ia juga menyarankan calon mahasiswa meluangkan waktu meneliti informasi penerimaan secara cermat, terutama terkait metode seleksi dan kombinasi mata pelajaran untuk tiap jurusan.
Selain pembatasan jumlah pilihan, aturan penerimaan baru juga mengatur bahwa kelompok pelamar untuk semua universitas dan program pendidikan anak usia dini di tingkat perguruan tinggi terdiri dari kandidat dengan total skor 15 poin atau lebih dalam tiga mata pelajaran kombinasi tes penerimaan, yakni matematika, sastra, dan satu mata pelajaran lainnya. Calon peserta program pelatihan guru juga diminta menempatkan program-program tersebut di antara lima pilihan pertama.