BERITA TERKINI
Dari Data ke Aksi: Perawatan Lansia Berbasis Sains di Tengah Populasi Menua

Dari Data ke Aksi: Perawatan Lansia Berbasis Sains di Tengah Populasi Menua

Hari Kesehatan Dunia yang diperingati setiap 7 April 2026 mengusung tema “Together for Health. Stand with Science”. Tema ini menjadi seruan agar berbagai pihak bekerja bersama dan menjadikan bukti ilmiah sebagai dasar kebijakan serta praktik kesehatan, termasuk dalam perawatan lanjut usia.

Penuaan populasi dan meningkatnya kompleksitas penyakit kronis menuntut kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, komunitas, hingga keluarga—serta pengambilan keputusan yang bertumpu pada data dan riset. Ketika kebijakan berpijak pada sains, intervensi pencegahan, deteksi dini, dan perawatan yang berpusat pada individu dinilai dapat mencegah penurunan fungsi dan memperpanjang kemandirian lansia.

Di Indonesia, lebih dari setengah provinsi telah memasuki fase ageing population, dengan proporsi lansia di atas 10 persen. Angka ini diproyeksikan meningkat dari 11 persen pada 2025 menjadi 22,8 persen pada 2050. Seiring bertambahnya usia, beban penyakit kronis dan disabilitas pada lansia juga dilaporkan terus meningkat.

Survei ILAS mencatat sekitar 66 persen responden melaporkan memiliki kondisi medis, dengan keluhan utama meliputi masalah pencernaan, hipertensi, dan kolesterol. Prevalensi gejala yang membutuhkan pelayanan jejaring primer (PJP) juga meningkat tajam, dari 11,6 persen secara keseluruhan menjadi 41,9 persen pada kelompok usia 80 tahun ke atas.

Data SKI 2023 menunjukkan hampir 3 persen lansia mengalami ketergantungan sedang hingga total, yang menjadi kriteria untuk mendapatkan layanan Perawatan Jangka Panjang. Sementara itu, Susenas 2024 mencatat mayoritas lansia tinggal dalam rumah tangga, bahkan 36 persen hidup bersama tiga generasi. Gambaran ini mengindikasikan peran caregiver di Indonesia masih didominasi keluarga.

Dalam konteks global, kajian Transforming Care: Global Innovations in the Care Economy di Australia menyoroti bahwa ekonomi perawatan merupakan bagian besar dari struktur sosial-ekonomi, namun kerap kurang diukur dan kurang didanai. Secara global, nilai gabungan perawatan berbayar dan tidak berbayar diperkirakan mencapai USD 11 triliun per tahun. Perawatan tidak berbayar setara dengan sekitar 9 persen PDB global, dengan total waktu mencapai 16,4 miliar jam per hari.

Di sejumlah negara, sektor perawatan menyumbang sekitar 15 persen tenaga kerja, tetapi median upahnya masih lebih rendah dibanding rata-rata industri. Pada saat yang sama, jam kerja di sektor health care and social assistance meningkat 20,1 persen sejak 2016, menunjukkan beban kerja yang bertambah tanpa diimbangi penghargaan yang memadai.

Pengalaman Australia juga menawarkan sejumlah pelajaran. Integrasi layanan melalui tim multidisiplin dan pendekatan berpusat pada konsumen dinilai dapat mengurangi fragmentasi serta meningkatkan kualitas hasil layanan. Program perawatan berbasis rumah, misalnya, menunjukkan kenaikan pengguna dari sekitar 71.900 pada 2017 menjadi 275.000 pada 2024, atau naik 283 persen. Reformasi berbasis hak dan standar kualitas turut memperkuat akuntabilitas penyedia layanan, sekaligus menegaskan pentingnya investasi pada tenaga kerja, pelatihan, dan pembiayaan jangka panjang.

Sejumlah pendekatan tersebut disebut dapat diadaptasi di Indonesia. Salah satunya melalui integrasi layanan dengan tim multidisiplin, consumer-directed care, serta penguatan layanan primer. Dalam kerangka ini, puskesmas dan posyandu lansia dapat diposisikan sebagai pusat koordinasi (integration hubs) untuk skrining, rujukan, dan rehabilitasi.

Langkah lain adalah memperkuat pencegahan dan deteksi dini melalui pendekatan seperti WHO ICOPE dan alat skrining cepat untuk mengidentifikasi risiko fungsional sejak awal. Implementasi versi sederhana di fasilitas layanan primer disebut berpotensi menurunkan angka rawat inap dan ketergantungan.

Selain itu, penguatan tenaga kerja perawatan dipandang perlu dilakukan melalui pelatihan lintas sektor, micro-credentialing, serta pengembangan jalur karier untuk mengantisipasi kekurangan tenaga di masa depan. Digitalisasi melalui rekam medis terintegrasi dan sistem data yang interoperabel juga dinilai dapat meningkatkan koordinasi layanan.

Dari sisi keberlanjutan, pengembangan skema pembiayaan jangka panjang—termasuk opsi seperti asuransi long-term care—serta pengakuan terhadap caregiver informal disebut menjadi kunci. Perhatian khusus diarahkan pada caregiver informal yang selama ini memikul beban besar tanpa dukungan memadai. Penyediaan pelatihan singkat, layanan respite care, pengakuan dalam kebijakan, serta bantuan finansial dinilai dapat membantu mengurangi kelelahan dan menjaga keberlanjutan perawatan di rumah.

Di tingkat komunitas, puskesmas dan posyandu lansia dapat berperan sebagai pusat layanan terpadu, mulai dari skrining rutin, penguatan tim multidisiplin lokal, hingga edukasi berbasis bukti yang melibatkan kader dan masyarakat.

Tema “Together for Health. Stand with Science” dipandang bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk menyatukan bukti, kebijakan, dan aksi komunitas dalam membangun sistem perawatan yang adil dan berkelanjutan. Indonesia dinilai berada pada titik krusial: kebutuhan layanan lansia meningkat pesat, sementara sistem layanan dan pembiayaan masih perlu diperkuat. Dengan mengadopsi praktik baik global dan menyesuaikannya dengan konteks lokal, upaya transformasi perawatan lansia dapat dipercepat—mulai dari skrining rutin, pelatihan caregiver, hingga edukasi berbasis data sebagai fondasi perawatan yang bermartabat dan efektif.