BERITA TERKINI
CTO Microsoft Uji AI Claude Opus 4.6, Temukan Bug Tersembunyi di Program 1986

CTO Microsoft Uji AI Claude Opus 4.6, Temukan Bug Tersembunyi di Program 1986

Eksperimen yang dilakukan Chief Technology Officer (CTO) Microsoft Azure, Mark Russinovich, menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat mempercepat proses pengungkapan celah dan kesalahan pada perangkat lunak, termasuk program lawas yang sudah berusia puluhan tahun.

Melalui unggahan di LinkedIn, Russinovich menceritakan pengalamannya menguji model AI Claude Opus 4.6 buatan Anthropic. Ia memasukkan sebuah kode biner dari era komputer Apple II untuk melihat sejauh mana kemampuan AI membaca dan menganalisis kode lama.

Kode yang diuji bukan program sembarangan. Russinovich menggunakan “Enhancer”, program kecil yang ia tulis pada Mei 1986. Program tersebut dibuat dengan bahasa mesin (assembly) 6502 dan kala itu berfungsi memodifikasi bahasa pemrograman Applesoft BASIC agar dapat menggunakan variabel pada perintah GOTO, GOSUB, dan RESTORE.

Hasilnya, Claude Opus 4.6 tidak hanya mampu memahami rangkaian instruksi lama tersebut. AI ini juga berhasil melakukan dekompilasi bahasa mesin 6502 ke format yang lebih mudah dibaca, lengkap dengan penambahan label serta komentar logika yang dinilai akurat.

Lebih jauh, Claude Opus 4.6 menemukan kesalahan logika yang selama ini tidak terdeteksi. Salah satu temuan yang disorot adalah bug berupa “perilaku salah yang tersembunyi” (silent incorrect behavior). Menurut analisis AI, ketika program tidak menemukan baris tujuan yang dicari, sistem tidak memunculkan peringatan kesalahan. Eksekusi justru dapat melompat ke baris berikutnya atau bahkan berlanjut hingga akhir program.

Claude juga mengusulkan perbaikan yang sesuai dengan pola pemrograman 6502. AI menyarankan penambahan instruksi untuk memeriksa status carry flag—yang akan aktif jika baris tidak ditemukan—kemudian mengarahkan alur eksekusi ke mekanisme penanganan error.

Bagi Russinovich, kemampuan AI membedah program hobi dari era 1980-an ini bukan sekadar demonstrasi teknologi. Ia menilai ada konsekuensi yang lebih besar, yakni percepatan penemuan kerentanan yang dapat berlangsung otomatis.

“Kita sedang memasuki era penemuan kerentanan yang diakselerasi oleh AI dan berjalan secara otomatis. Kemampuan ini akan dimanfaatkan oleh pihak yang bertahan maupun para penyerang,” tulis Russinovich.