Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, S.T., M.Eng., Ph.D., menegaskan bahwa perempuan kini tidak lagi sekadar menjadi partisipan, tetapi telah tampil sebagai penggerak utama dalam perkembangan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Menurutnya, hal ini sejalan dengan visi FTI ITB untuk unggul secara akademik sekaligus mendorong sensitivitas sosial serta kontribusi nyata yang berdampak luas, baik di tingkat nasional maupun global.
ChEFB-InspireFest V.02 menghadirkan seminar yang dibagi dalam tiga sesi, dengan fokus pada keterkaitan antara sains, industri, dan keberlanjutan.
Pada sesi pertama bertema “STEM in Industry and Innovation”, pembahasan diarahkan pada bagaimana ilmu keteknikan dapat diimplementasikan menjadi produk inovatif bernilai guna. Ir. Anita Fajrin, S.T. dari ParagonCorp menyampaikan bahwa industri kosmetik merupakan sektor yang menjanjikan karena kebutuhannya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menekankan, lulusan teknik ITB tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan komunikasi agar mampu beradaptasi di dunia industri profesional.
Masih pada sesi yang sama, Ir. Angelica Tanisia Jozar, S.T. dari PT Avia Avian Tbk. menyampaikan pandangannya bahwa hampir seluruh inovasi di luar ciptaan Tuhan merupakan hasil pemikiran berbasis STEM. Ia menambahkan, kreativitas yang didukung kepemimpinan serta kemampuan membangun relasi menjadi kunci dalam menciptakan produk bernilai. Menurutnya, pengalaman di luar lingkup pekerjaan utama juga penting untuk memperluas perspektif, terutama dalam membangun kapasitas kepemimpinan yang komprehensif.
Sesi kedua bertajuk “TEKANITA Talkshow – The Industry and Innovation” menghadirkan diskusi interaktif mengenai peran perempuan di dunia profesional. Para pembicara membagikan pengalaman serta refleksi terkait tantangan dan peluang perempuan di sektor industri.
Dalam sesi ini, Ir. Evi Afiatin, M.Sc., MAF., CPA dari PT Surveyor Indonesia menekankan bahwa latar belakang STEM membentuk pola pikir yang terstruktur, berbasis data, dan sistematis. Namun, ia menilai kompetensi teknis saja tidak cukup tanpa diimbangi karakter yang kuat. “Kalian tidak akan kalah dengan AI ketika tetap menjadi manusia yang utuh,” ujarnya, seraya menyoroti pentingnya nilai kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi yang pesat.
Diskusi turut menghadirkan Arlyza Eka Wijayanti, S.T., MBA dari PT Pupuk Kujang, Filda C. Yusgiantoro, S.T., MBA, MBM, Ph.D. dari Purnomo Yusgiantoro Center, serta Ir. Tanti Sofia Rosyid, S.T., M.T., IPM, FS Eng. dari Kangean Energy Indonesia. Para pembicara menyampaikan bahwa perempuan memiliki peran signifikan dalam mendorong inovasi industri, sekaligus membawa perspektif kepemimpinan yang adaptif dan inklusif.
Sesi ketiga mengangkat tema “Sustainable Engineering & Women in STEM” dengan menghadirkan akademisi dari University of New South Wales, Prof. Cordelia Selomulya, Ph.D. dan Prof. Rose Amal, Ph.D. Sesi ini menyoroti kontribusi perempuan dalam pengembangan solusi berkelanjutan melalui riset dan inovasi di bidang teknik kimia.
Rangkaian acara ditutup dengan peluncuran Grow Beyond Yourself Program sebagai inisiatif lanjutan untuk mendorong pengembangan kapasitas diri, khususnya bagi perempuan di bidang STEM.
Melalui ChEFB-InspireFest V.02, penyelenggara berharap semakin banyak mahasiswa, terutama perempuan, terdorong untuk berani mengambil peran strategis dalam dunia sains, teknik, dan industri, serta berkontribusi dalam menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat luas.