BERITA TERKINI
CEO Adobe Shantanu Narayen Mundur di Tengah Tekanan AI Generatif

CEO Adobe Shantanu Narayen Mundur di Tengah Tekanan AI Generatif

Adobe mengumumkan pengunduran diri Shantanu Narayen dari posisi chief executive officer (CEO) pada Kamis (12/3/2026) waktu Amerika Serikat. Keputusan itu muncul di tengah meningkatnya skeptisisme terhadap kemampuan Adobe bertahan dan tumbuh saat tren kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif kian menekan industri perangkat lunak kreatif.

Narayen telah memimpin Adobe selama 18 tahun. Ia akan tetap menjabat sebagai CEO hingga perusahaan menunjuk pengganti. Setelah mundur dari posisi CEO, Narayen juga masih akan menduduki kursi Ketua Dewan Direksi.

Selama memimpin sejak akhir 2007, Narayen dinilai membawa Adobe memasuki periode pertumbuhan besar. Pendapatan tahunan Adobe meningkat hampir enam kali lipat menjadi sekitar 24 miliar dollar AS (sekitar Rp 406 triliun). Jumlah karyawan juga bertambah dari sekitar 7.000 orang menjadi lebih dari 30.000 orang.

Narayen dikenal memimpin salah satu transformasi model bisnis perangkat lunak yang dianggap sukses, yakni peralihan dari penjualan lisensi sekali beli menuju model langganan berulang untuk paket aplikasi. CEO Microsoft Satya Nadella menyebut masa kepemimpinannya sebagai perjalanan yang “legendaris”, sementara CEO Figma Dylan Field menggambarkannya sebagai pemimpin yang bijaksana dan gigih dalam mengejar visi Adobe.

Tekanan terhadap perusahaan perangkat lunak desain meningkat seiring AI generatif yang memungkinkan pengguna membuat desain grafis hanya dari perintah teks maupun gambar. Dalam situasi ini, perusahaan seperti Adobe dituntut tetap relevan sekaligus menjaga pertumbuhan. Sejumlah perusahaan sejenis, termasuk Salesforce dan Atlassian, juga dinilai menghadapi kesulitan serupa dalam menarik pelanggan baru seiring munculnya perusahaan AI baru.

Adobe telah mengintegrasikan berbagai fitur AI ke dalam perangkat lunak kreatif dan pemasaran. Perusahaan juga mengembangkan model AI sendiri yang dirancang untuk menghasilkan gambar tanpa risiko pelanggaran hak cipta. Namun, upaya tersebut dinilai belum sepenuhnya menjawab tantangan yang muncul dari tren AI.

Analis Grace Harmon dari perusahaan riset pasar Emarketer menilai mundurnya Narayen memunculkan pertanyaan mengenai arah strategi Adobe ke depan. “Perubahan CEO ini menambah pertanyaan terkait kesinambungan strategi, prioritas alokasi modal, dan kecepatan inovasi,” ujar Harmon.

Menurut Harmon, investor kemungkinan akan mengamati apakah pemimpin baru Adobe mampu menjaga keseimbangan antara eksekusi bisnis yang disiplin dan investasi agresif di bidang AI, terutama ketika persaingan dalam teknologi AI kreatif dan enterprise semakin ketat.

Kabar pengunduran diri Narayen turut berdampak pada pergerakan saham Adobe. Saham perusahaan turun sekitar 7 persen dalam perdagangan setelah jam bursa di New York, setelah sebelumnya ditutup pada 269,78 dollar AS (sekitar Rp 4,5 juta) per lembar. Sepanjang 2026, saham Adobe juga merosot sekitar 23 persen dan mendekati level terendahnya dalam tiga tahun terakhir.