BERITA TERKINI
BRIN: Penguatan Riset dan Inovasi Dinilai Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Nasional

BRIN: Penguatan Riset dan Inovasi Dinilai Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan penguatan ekosistem riset dan inovasi menjadi salah satu faktor kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, kemajuan ekonomi suatu negara sangat dipengaruhi oleh kekuatan riset, inovasi, serta kualitas sumber daya manusia.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (30/4/2026), Arif menilai inovasi semakin penting di tengah dinamika global yang terus berubah. Ia menyebut inovasi sebagai elemen utama untuk meningkatkan daya saing bangsa.

“Inovasi menjadi lokomotif baru pembangunan ekonomi. Karena itu, penguatan riset dan inovasi harus terus didorong agar mampu meningkatkan daya saing nasional,” kata Arif.

Arif juga menyoroti posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII) yang masih menghadapi tantangan. Pada 2024, Indonesia berada di peringkat 54, lalu turun ke posisi 55 pada 2025. Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal perlunya percepatan penguatan ekosistem inovasi, baik dari aspek kebijakan, pendanaan, maupun kolaborasi lintas sektor.

Ia menambahkan, terdapat hubungan yang kuat antara tingkat inovasi dengan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, negara dengan indeks inovasi tinggi umumnya memiliki produktivitas dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

“Negara dengan indeks inovasi tinggi biasanya juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat. Ini menunjukkan bahwa riset dan inovasi berperan besar dalam mendorong kemajuan ekonomi,” ujarnya.

Sebagai lembaga yang berperan sebagai penggerak utama riset nasional, BRIN disebut terus memperkuat seluruh tahapan inovasi, mulai dari riset dasar, pengembangan teknologi, validasi, hingga hilirisasi. Arif menekankan riset fundamental tetap menjadi fondasi penting meski tidak selalu memberikan dampak langsung dalam jangka pendek.

“Riset fundamental memang tidak selalu menghasilkan dampak langsung, tetapi menjadi dasar bagi pengembangan teknologi di masa depan,” ucapnya.

Selain itu, BRIN juga berupaya meningkatkan produktivitas riset melalui publikasi ilmiah dan paten. Arif menyebut jumlah paten Indonesia menunjukkan tren positif, namun capaian tersebut masih tertinggal dibandingkan negara seperti China, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Penguatan inovasi nasional, lanjut Arif, diarahkan pada sektor-sektor strategis yang dinilai berdampak luas, seperti pangan, energi, kesehatan, pertahanan, material maju, serta transformasi digital. Fokus tersebut disebut sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset, BRIN mengembangkan konsep Rumah Inovasi Indonesia sebagai pusat layanan terpadu. Platform ini dirancang untuk menghubungkan peneliti, industri, pemerintah, dan investor guna mempercepat proses hilirisasi inovasi.

Di sisi lain, Arif menekankan pentingnya kesiapan sosial dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat. Tanpa kesiapan tersebut, menurutnya, kemajuan teknologi berpotensi memunculkan kesenjangan atau cultural lag. Karena itu, BRIN juga mendorong penguatan riset sosial agar inovasi dapat diterima dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

“Pengembangan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan sosial. Jika tidak, akan muncul kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kemampuan masyarakat dalam mengadopsinya,” tutur Arif.