BERITA TERKINI
BPDP Minta Proposal Grant Riset 2026 Cantumkan Target Dampak Terukur dan Roadmap Hilirisasi

BPDP Minta Proposal Grant Riset 2026 Cantumkan Target Dampak Terukur dan Roadmap Hilirisasi

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menegaskan proposal untuk Grant Riset BPDP 2026 harus disusun tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memuat target capaian yang terukur, roadmap implementasi yang jelas, serta manfaat ekonomi yang dapat dihitung. Peneliti didorong menggunakan pendekatan Technology Readiness Level (TRL) agar hasil riset memiliki arah pengembangan yang konkret menuju adopsi industri dan dampak di lapangan.

Penegasan tersebut disampaikan Komite Litbang BPDP, Tony Liwang, dalam Webinar Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026 pada Kamis (30/4/2026).

Menurut Tony, kelemahan yang kerap muncul dalam proposal riset adalah belum tergambarnya secara rinci posisi awal inovasi, target level teknologi yang ingin dicapai, serta estimasi waktu untuk mencapainya. Padahal, pendekatan berbasis TRL dinilai penting untuk memastikan peneliti memiliki peta jalan yang realistis dalam membawa hasil riset dari laboratorium menuju implementasi.

“Peneliti harus bisa menjelaskan dari level berapa teknologi dimulai, akan dibawa ke level berapa, dan dalam jangka waktu berapa lama target itu bisa dicapai. Ini penting agar arah pengembangan inovasi menjadi jelas,” ujar Tony.

Ia juga menekankan bahwa dampak riset perlu disajikan dalam indikator yang terukur, bukan sebatas pernyataan umum bahwa inovasi akan memberi dampak positif. Dalam konteks kajian penerapan standar keberlanjutan seperti sertifikasi ISPO, misalnya, peneliti diminta menghitung lebih konkret potensi dampak ekonomi maupun sosial, termasuk penurunan angka kecelakaan kerja, efisiensi biaya operasional, peningkatan produktivitas tenaga kerja, hingga kenaikan pendapatan petani sawit.

“Kami tidak berharap hanya disebut dampaknya positif. Yang kami ingin lihat adalah seberapa besar dampaknya, dari kondisi berapa menjadi berapa, kapan tercapai, dan apa implikasi ekonominya,” tegasnya.

Selain indikator kuantitatif, BPDP juga meminta proposal memuat timeline implementasi yang realistis, baik untuk program satu tahun maupun multi-tahun. Peneliti diharapkan dapat merinci tahapan pencapaian dari tahun pertama, tahun kedua, hingga target akhir implementasi agar penilaian kelayakan riset dapat dilakukan secara lebih objektif, termasuk menakar peluang inovasi untuk diadopsi industri atau diterapkan petani.

Tony menambahkan, tidak semua inovasi dapat memberikan hasil instan dalam satu tahun. Namun, proposal setidaknya harus menunjukkan arah progres yang jelas, berikut estimasi perubahan yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu.

Komite Litbang BPDP juga menyoroti pentingnya analisis keekonomian dalam proposal. Setiap inovasi diharapkan mampu menunjukkan nilai tambah secara finansial, baik melalui penghematan biaya, peningkatan efisiensi, kenaikan produktivitas, maupun manfaat ekonomi jangka panjang bagi industri dan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, BPDP berharap Grant Riset 2026 melahirkan inovasi yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga layak secara bisnis, aplikatif di lapangan, serta berdampak nyata bagi penguatan daya saing sektor sawit nasional.