JAKARTA, 30/04/26 — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) membuka call for proposal pendanaan penelitian melalui program Grant Riset BPDP 2026. Untuk membantu proses pendaftaran, BPDP menggelar webinar yang menjadi panduan bagi calon pengusul proposal.
BPDP menyatakan transformasi lembaga yang kini mencakup pengelolaan dana bagi tiga komoditas—kelapa sawit, kakao, dan kelapa—menjadi tonggak baru dalam upaya memperkuat sektor perkebunan nasional melalui inovasi dan teknologi. Program grant ini juga diarahkan agar riset tidak berhenti pada tahap laboratorium, melainkan menghasilkan solusi aplikatif bagi tantangan industri serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menekankan perluasan mandat lembaga tahun ini membawa semangat inklusivitas yang lebih besar. Ia menyatakan BPDP memberi ruang seluas-luasnya bagi peneliti untuk mengajukan riset pada tiga komoditas utama tanpa pembatasan kuota jumlah riset yang kaku per kategori.
“Tahun ini, kami akan melihat riset-riset yang berdampak bagi kakao, kelapa, dan sawit. Kami tidak akan membatasi atau menentukan jumlahnya masing-masing secara spesifik. Penting bagi kita agar hasil dari riset kita menjadi maksimal pemanfaatannya menuju komersialisasi,” kata Mohammad Alfansyah.
Menurutnya, keberhasilan program akan diukur dari sejauh mana hasil riset dapat dimanfaatkan secara nyata oleh para pemangku kepentingan untuk meningkatkan nilai tambah produk perkebunan Indonesia di pasar global.
Dari sisi penilaian proposal, Komite Penelitian dan Pengembangan BPDP, Dr. Tony Liwang, menegaskan pentingnya kualitas luaran penelitian. Ia menyebut keluaran yang diharapkan harus dapat direplikasi sehingga bisa digunakan dan diterapkan oleh masyarakat.
“Output yang diharapkan adalah replicable sehingga siapa saja dapat menggunakan dan masyarakat dapat mengaplikasikannya. Tolong perhatikan daftar periksa agar tidak ada yang terlewatkan, seperti apakah riset sudah jelas, memiliki relevansi yang kuat, inovatif, berdampak, dan apakah nilai komersialisasinya bernilai tinggi?” ujar Tony Liwang.
BPDP menilai aspek replikabilitas menjadi kunci agar inovasi dapat lebih cepat diserap, termasuk oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor perkebunan di berbagai daerah.
Menutup rangkaian arahan dalam kegiatan tersebut, Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, menyampaikan pesan penyemangat kepada akademisi dan praktisi riset. Ia menekankan proses seleksi merupakan bagian dari upaya bersama untuk menajamkan kualitas keilmuan nasional.