Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) resmi membuka program Grant Riset BPDP 2026. Program ini menitikberatkan pada penelitian yang dinilai mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan komoditas strategis nasional, terutama sawit, kelapa, dan kakao, dari sektor hulu hingga hilir.
Perubahan nama dari Grant Riset Sawit menjadi Grant Riset BPDP menandai perluasan cakupan pendanaan riset. Jika sebelumnya berfokus pada sawit, kini dukungan juga diarahkan pada komoditas perkebunan strategis lain. BPDP menilai langkah ini sebagai upaya memperkuat ekosistem riset nasional yang selaras dengan kebutuhan industri dan pembangunan berkelanjutan.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menyebut minat akademisi dan lembaga penelitian terhadap program ini terus meningkat. Menurutnya, pada tahun terakhir jumlah proposal yang masuk mencapai lebih dari 1.400, dan dengan cakupan riset yang lebih luas, jumlah pengajuan pada tahun ini diperkirakan bertambah.
Mohammad Alfansyah mengatakan tingginya antusiasme menunjukkan kalangan perguruan tinggi dan peneliti melihat BPDP sebagai mitra strategis untuk mendukung riset terapan yang berpeluang diimplementasikan. Karena itu, BPDP menekankan agar penelitian yang didanai benar-benar menjawab tantangan industri.
Grant Riset BPDP 2026 difokuskan pada inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, kualitas produk, serta mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan. BPDP menegaskan riset tidak diharapkan berhenti pada kajian akademik, melainkan dapat diadopsi pelaku usaha, pemerintah, maupun masyarakat.
Ruang lingkup hasil riset yang diharapkan mencakup solusi konkret, mulai dari pengembangan bibit unggul, teknologi budidaya, pengolahan produk turunan, hingga penguatan rantai pasok dan keberlanjutan industri perkebunan nasional. BPDP berharap dana riset yang disalurkan dapat menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas.
“Apa pun riset yang dilakukan harus diarahkan pada penguatan, pengembangan, dan peningkatan produk. Yang kami harapkan adalah riset yang menghasilkan dampak nyata terhadap pengembangan komoditas tersebut,” kata Mohammad Alfansyah dalam acara di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Selain substansi penelitian, BPDP juga menaruh perhatian pada kelengkapan administrasi proposal. Pada seleksi tahun sebelumnya, sejumlah proposal dinyatakan gugur pada tahap awal karena tidak memenuhi persyaratan administrasi, sehingga tidak dapat melaju ke penilaian lebih lanjut.
BPDP meminta calon peserta lebih cermat menyiapkan dokumen pendukung, metodologi penelitian, jadwal pelaksanaan, serta rencana luaran yang jelas. Ketelitian pada tahap administrasi dinilai menjadi pintu awal agar proposal memiliki peluang bersaing pada tahap evaluasi berikutnya.
Dalam proses seleksi 2026, BPDP memastikan penilaian dilakukan secara independen dan objektif. Komite Litbang diminta tidak melayani konsultasi spesifik terkait substansi proposal selama masa pengajuan yang berlangsung hingga Juni, sebagai langkah menjaga fairness dan integritas seleksi.
Seluruh proposal akan dinilai berdasarkan kualitas ide, relevansi dengan kebutuhan sektor perkebunan, serta potensi implementasinya. BPDP juga akan mempertimbangkan rekam jejak institusi pengusul, termasuk hasil riset sebelumnya, kualitas output, ketepatan waktu pelaporan, dan komitmen menyelesaikan proyek sesuai target.
Untuk memperluas jangkauan informasi, BPDP berencana menggelar sosialisasi langsung di sejumlah wilayah, antara lain Bandung, Jawa Tengah, Medan, Aceh, hingga kawasan Indonesia Timur. BPDP juga menyiapkan pendekatan klasterisasi perguruan tinggi agar informasi program dapat diterima lebih merata di berbagai daerah.