New York City menjadi lokasi penyelenggaraan HP Imagine 2026, ajang yang dimanfaatkan Interim Chief Executive Officer HP Inc., Bruce Broussard, untuk menegaskan arah perusahaan terkait kecerdasan buatan (AI). Dalam pembukaan acara pada Selasa (24/3/2026), Broussard menyatakan AI tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan akan menjadi mitra kerja utama manusia.
Broussard menilai dunia sedang berada dalam “momen menentukan” dalam evolusi teknologi. Ia menyebut, setelah era mesin industri, transformasi digital, dan revolusi perangkat seluler, kini AI hadir sebagai penguat utama yang mengubah cara manusia hidup dan bekerja.
“AI menganalisis, membantu pengambilan keputusan, menciptakan secara real-time, dan memperluas apa yang mungkin dilakukan manusia,” ujar Broussard.
Ia menjelaskan percepatan AI terjadi karena siklus penguatan yang terus berulang: model yang semakin canggih mendorong kebutuhan komputasi lebih besar, sementara peningkatan kapasitas komputasi memungkinkan lahirnya model yang lebih baik. Menurutnya, dampak dari dinamika ini terlihat pada adopsi teknologi yang bergerak cepat, dari tahap eksperimen hingga skala perusahaan.
Dalam visi HP, perubahan tersebut akan menggeser posisi AI dari sekadar alat bantu menjadi kolaborator. Broussard menyebut AI dapat mempercepat proses kerja manusia—mulai dari ide, menjadi wawasan, hingga aksi—dengan efisiensi dan presisi yang lebih tinggi.
Ia juga menyoroti peran perangkat sebagai “platform AI personal” yang adaptif terhadap kebutuhan individu. Teknologi disebut akan semakin terasa personal, mampu mengantisipasi kebutuhan pengguna, merespons secara instan, dan bekerja secara senyap di balik layar.
“Ini bukan hanya tentang produktivitas, tetapi juga kepuasan dalam bekerja,” katanya.
Untuk menggambarkan implementasi, HP memaparkan sejumlah contoh penggunaan lintas sektor. Di industri ritel, perusahaan mengembangkan sistem berbasis kamera yang dapat mengenali pelanggan dan konteks keberadaan mereka di dalam toko. Sistem tersebut menggabungkan riwayat pembelian dan preferensi untuk memberikan rekomendasi secara real-time kepada staf toko.
Di sektor kesehatan, HP memperkenalkan teknologi pendengaran ambien berbasis AI yang dapat menganalisis audio, video, dan data perangkat secara otomatis. Teknologi ini ditujukan untuk membantu tenaga medis dengan mendokumentasikan perubahan kondisi pasien dan memberikan peringatan dini, sehingga mereka dapat lebih fokus pada perawatan.
Sementara dalam konteks keamanan transportasi, Broussard menyinggung potensi AI untuk menggantikan pendekatan penyaringan statis seperti program TSA PreCheck atau Global Entry dengan sistem yang lebih dinamis dan kontekstual.
Meski menekankan kecanggihan teknologi, Broussard menegaskan fondasi utama HP tetap pada manusia dan kepercayaan pelanggan. Menurutnya, transformasi digital hanya akan berhasil jika mampu meningkatkan pengalaman manusia secara nyata.
“HP bukan hanya perusahaan teknologi. Ini tentang orang, budaya, dan kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan strategi HP ke depan untuk memposisikan AI sebagai inti ekosistem kerja modern, sembari menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.