Persaingan menjadi yang terdepan di industri kecerdasan buatan (AI) memunculkan fenomena baru di dunia teknologi: dalam hitungan bulan, sejumlah tokoh di balik inovasi AI melonjak ke jajaran miliarder. Lonjakan ini didorong permintaan global yang tinggi terhadap teknologi AI dan perangkat keras pendukungnya, ketika investor besar, perusahaan raksasa, hingga pemerintah berlomba mengamankan perangkat lunak canggih maupun chip superkomputasi.
Salah satu nama yang paling menonjol adalah CEO Nvidia, Jensen Huang. Perusahaan yang dipimpinnya memproduksi chip grafis dan prosesor AI yang kini dianggap krusial untuk membangun sistem AI skala besar. Kekayaan Huang diperkirakan mencapai USD 159 miliar, menempatkannya di urutan ke-8 orang terkaya dunia.
Sepanjang tahun ini, kekayaan Huang disebut bertambah lebih dari USD 44 miliar seiring kenaikan harga saham Nvidia. Kenaikan tersebut turut membawa valuasi Nvidia menembus USD 4 triliun, yang disebut sebagai valuasi tertinggi di dunia saat ini.
Selain Huang, tiga miliarder baru juga muncul dari kalangan pendiri dan insinyur awal perusahaan AI besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Perplexity. Valuasi perusahaan-perusahaan ini menjadi sumber utama akumulasi kekayaan para tokohnya. OpenAI disebut bernilai sekitar USD 500 miliar, sementara Anthropic dikabarkan mengincar valuasi USD 170 miliar.
Pendiri Anthropic, Dario Amodei, bersama mantan tokoh kunci OpenAI seperti Mira Murati dan Ilya Sutskever, diperkirakan telah masuk ke klub miliarder. Murati dan Sutskever juga diketahui mendirikan perusahaan masing-masing, yakni Thinking Machines Lab dan Safe Superintelligence Inc.
Tren pertumbuhan perusahaan bernilai jumbo di sektor ini dinilai semakin cepat. Data CB Insights mencatat, hingga pertengahan 2025 terdapat 53 perusahaan berstatus “unicorn” atau bernilai di atas USD 1 miliar, dan lebih dari separuhnya merupakan perusahaan AI. Perusahaan unicorn yang sejak awal berfokus pada AI juga disebut mampu mencapai valuasi tersebut rata-rata dalam 6 tahun, lebih cepat dibanding rata-rata global 7 tahun.
Di balik kisah sukses dan angka valuasi yang melesat, dampak sosial mulai terasa di pusat-pusat teknologi. Lonjakan harga properti dan tarif sewa menjadi sorotan. Data Zillow menunjukkan rata-rata sewa di San Francisco mencapai USD 3.526 per bulan, naik USD 176 dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara di New York, rata-rata sewa sekitar USD 3.800.
Tekanan biaya hidup ini dilaporkan mendorong banyak keluarga berpenghasilan menengah dan rendah meninggalkan kota, yang kemudian memengaruhi komposisi demografis dan memicu kekhawatiran akan berkurangnya keragaman sosial di wilayah pusat perkembangan AI.
Perkembangan AI yang sangat cepat pun menghadirkan paradoks. Di satu sisi, teknologi ini membuka peluang ekonomi baru dan mencetak miliarder dalam waktu singkat. Di sisi lain, biaya hidup di sejumlah kota pusat industri AI terus meningkat. Sejumlah analis memperingatkan, tanpa intervensi kebijakan yang tegas, kesenjangan ekonomi berpotensi melebar lebih cepat dari perkiraan. Fenomena ini menegaskan bahwa revolusi AI bukan hanya cerita kemajuan teknologi, tetapi juga membawa tantangan sosial yang kian nyata.