BERITA TERKINI
Blokade Internet Iran Memasuki Minggu Kelima, Warga Kesulitan Akses Informasi dan Komunikasi

Blokade Internet Iran Memasuki Minggu Kelima, Warga Kesulitan Akses Informasi dan Komunikasi

Pemutusan akses internet di Iran telah berlangsung selama lebih dari sebulan di tengah konflik, membatasi jutaan orang dari informasi dan komunikasi dengan dunia luar. Organisasi pemantau internet NetBlocks mencatat bahwa per 30 Maret, blokade tersebut memasuki minggu kelima, setara dengan 696 jam gangguan terus-menerus.

Dalam kondisi ini, jaringan domestik masih berfungsi untuk layanan dasar seperti pengiriman pesan dan perbankan. Namun, akses ke internet global dilaporkan sangat dibatasi, membuat masyarakat kesulitan memperoleh informasi dari berbagai sumber dan lebih bergantung pada platform serta media yang dikendalikan negara.

Arshia, seorang manajer pemasaran di Teheran, mengatakan sumber informasinya menjadi sangat terbatas. “Saya tidak punya sumber informasi lain selain televisi pemerintah, karena bahkan saluran asing pun diblokir,” ujarnya. Ia menambahkan, komunikasi dengan kerabat hanya mungkin lewat telepon, tetapi sering kali sulit dilakukan dan memicu stres berkepanjangan.

Situasi serupa juga digambarkan oleh reporter AFP, yang menyebut mereka hanya dapat terhubung dengan warga Iran melalui WhatsApp atau Telegram saat terjadi pemadaman internet singkat, kerap dengan bantuan jaringan pribadi virtual (VPN).

Pada minggu-minggu awal konflik, hilangnya konektivitas membuat banyak keluarga nyaris terpisah. Maryam, seorang karyawan sektor swasta, mengatakan ia hanya bisa menghubungi keluarganya di kota lain melalui telepon. “Saat ini, kami menggunakan aplikasi lokal untuk panggilan video. Ini bukan solusi ideal, tetapi kami harus menerimanya dalam keadaan seperti ini,” katanya.

Bagi warga yang memiliki keluarga di luar negeri, hambatannya disebut lebih berat. Milad, penjual pakaian berusia 27 tahun, mengatakan ia tidak dapat menghubungi keluarganya di Turki secara daring. “Keluarga saya tinggal di Turki, dan saya tidak punya cara untuk menghubungi mereka secara online. Saya harus menelepon mereka langsung, tetapi biayanya sangat mahal, jadi kami jarang bisa berbicara,” ujarnya.

Iran sebelumnya beberapa kali memutus akses internet pada periode ketidakstabilan, termasuk saat protes nasional pada Januari serta konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025. Setelah protes, akses internet sempat dipulihkan sebagian namun tetap berada di bawah kontrol ketat, sebelum kemudian kembali hampir sepenuhnya diputus saat pertempuran terbaru pecah pada 28 Februari.

Meski sebagian orang berupaya melewati sensor untuk mengakses internet, koneksi tetap dilaporkan sangat tidak stabil. Hanieh, seorang perajin tembikar di Teheran, mengatakan ia membutuhkan hampir dua minggu untuk mendapatkan kembali akses internet yang terbatas, tetapi kualitasnya masih tidak dapat diandalkan.