Makna bela negara dinilai tidak lagi terbatas pada upaya mempertahankan negara melalui kekuatan fisik dan militer. Di tengah transformasi digital, bentuk ancaman terhadap ketahanan nasional turut bergeser, dari serangan bersenjata menjadi ancaman berbasis informasi dan data di ruang digital.
Sejumlah tantangan yang disebut mengemuka antara lain hoaks, disinformasi, kebocoran data, hingga serangan siber. Ancaman-ancaman tersebut dipandang dapat melemahkan stabilitas sosial dan menggerus kepercayaan publik, sehingga bela negara menjadi relevan dalam bentuk yang lebih luas.
Dalam konteks ini, bela negara dipahami sebagai hak dan kewajiban setiap warga negara yang diwujudkan melalui sikap, perilaku, dan tindakan untuk menjaga kedaulatan serta keselamatan bangsa. Kontribusi tersebut dinilai tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat pertahanan, melainkan dapat dilakukan oleh seluruh warga negara sesuai profesi dan keahliannya.
Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, peran bela negara dapat diwujudkan melalui kontribusi intelektual dan penguasaan teknologi. Salah satu bidang yang disebut memiliki posisi strategis adalah sains data, disiplin ilmu yang berfokus pada pengolahan, analisis, dan interpretasi data untuk menghasilkan informasi bernilai bagi pengambilan keputusan.
Keahlian sains data dinilai dibutuhkan di berbagai sektor strategis, mulai dari pemerintahan, kesehatan, pendidikan, hingga keamanan nasional. Melalui bidang ini, mahasiswa dapat berkontribusi dalam bentuk bela negara non-militer, misalnya dengan mendorong pengelolaan data yang aman, analisis informasi yang akurat, serta pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Di sisi lain, teknologi digital juga disebut memiliki dua sisi. Selain mempermudah akses informasi dan memperluas wawasan kebangsaan, teknologi dapat menjadi alat yang merugikan negara apabila tidak disertai literasi digital dan etika yang memadai. Karena itu, penguasaan teknologi dinilai perlu berjalan seiring dengan kesadaran berbangsa dan bernegara.
Dalam kerangka tersebut, pengolahan data yang keliru atau penyalahgunaan data dipandang berpotensi menjadi ancaman. Oleh sebab itu, penerapan kemampuan sains data secara tepat dan bertanggung jawab disebut sebagai salah satu bentuk pengabdian yang relevan dengan tantangan bela negara di era digital.