JAKARTA — PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatat aktivitas investasi pengguna aplikasi Jago kian meningkat. Hingga akhir 2025, jumlah pengguna aplikasi Jago yang terhubung dengan platform investasi mitra, Bibit dan Stockbit, naik 38,2 persen secara tahunan.
Head of Digital Lending Business Bank Jago, Irene Santoso, mengatakan komposisi pilihan investasi pengguna didominasi reksa dana sebesar 44 persen, disusul saham 42 persen, dan obligasi 14 persen.
“Minat investasi yang meningkat di pasar saham juga terlihat dari pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) Bank Jago yang naik lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025,” ujar Irene dalam Forum Jurnalis Jagoan - Media Wellness Experience, Jumat (17/4/2026).
Seiring meningkatnya dan makin beragamnya minat investasi masyarakat, Bank Jago melihat kebutuhan nasabah untuk memantau seluruh rincian portofolio investasi dalam satu tampilan. Karena itu, Bank Jago menghadirkan tampilan terintegrasi yang memungkinkan nasabah melihat portofolio investasi yang tersebar di berbagai platform dalam satu tab di aplikasi Jago.
Fitur tersebut terhubung dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta platform investasi mitra dalam ekosistem digital yang sudah ada, termasuk Bibit dan Stockbit.
Irene menilai tantangan pengguna saat ini bukan lagi terbatasnya pilihan instrumen investasi, melainkan informasi aset yang tersebar dan tidak saling terhubung. Kondisi itu, menurut dia, berpotensi membuat nasabah mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap.
Penyempurnaan aplikasi Jago ini, kata Irene, sejalan dengan aspirasi Bank Jago untuk meningkatkan kesempatan tumbuh berjuta orang melalui solusi keuangan digital yang berfokus pada kehidupan. Bank Jago juga menyatakan komitmennya mendampingi pengguna di berbagai tahap perjalanan finansial, mulai dari mengelola kebutuhan sehari-hari, menempatkan uang sesuai tujuan, hingga menumbuhkan keuangan melalui instrumen investasi dalam satu aplikasi yang terintegrasi dalam ekosistem keuangan digital.
Dalam lima tahun perjalanannya, Irene menjelaskan, aplikasi Jago berkembang dari layanan perbankan digital untuk menabung dan bertransaksi menjadi sarana untuk menempatkan dan menumbuhkan aset secara lebih menyeluruh dalam satu perjalanan finansial.
Sejak awal, aplikasi Jago menghadirkan fitur “kantong” untuk memisahkan uang ke dalam berbagai pos sesuai tujuan. Pendekatan ini disebut terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang memisahkan uang ke dalam berbagai wadah, seperti amplop atau tempat penyimpanan sederhana berdasarkan kebutuhan.
Hingga Maret 2026, Bank Jago mencatat sekitar 43,2 juta kantong telah digunakan oleh 15,2 juta pengguna.