Arm, perusahaan desain chip asal Inggris, mengambil langkah baru setelah lebih dari 30 tahun berfokus merancang arsitektur prosesor untuk dilisensikan ke produsen pihak ketiga. Kini, Arm mulai memproduksi chip buatannya sendiri, seiring meningkatnya kebutuhan komputasi—terutama untuk kecerdasan buatan (AI).
CEO Arm Rene Haas menyatakan langkah ini dipicu lonjakan permintaan komputasi untuk AI. Arm juga menyebut sejumlah mitra industrinya membutuhkan solusi komputasi siap pakai untuk menjalankan AI skala besar.
Chip perdana tersebut diberi nama Arm AGI CPU. Produk ini dirancang untuk kebutuhan AI generatif dan agentic AI, yakni sistem AI yang dapat bertindak secara mandiri. Arm menegaskan chip ini ditujukan untuk server berperforma tinggi di pusat data, bukan untuk ponsel atau PC.
Arm menyebut Arm AGI CPU diposisikan sebagai fondasi komputasi untuk era “agentic AI cloud”, ketika sistem AI berjalan terus-menerus dan saling berkoordinasi secara otomatis. Dalam konteks tersebut, peran CPU dinilai semakin penting karena harus mengatur ribuan tugas AI secara paralel dalam waktu singkat, termasuk pengelolaan memori dan penyimpanan, pengaturan beban kerja, hingga koordinasi interaksi antar agen AI dalam skala besar.
Secara teknis, Arm AGI CPU dibangun menggunakan proses fabrikasi 3 nanometer (nm) oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Chip ini memiliki hingga 136 inti berbasis arsitektur Neoverse V3, dan dirancang untuk server rack 1U.
Dalam konfigurasi server referensi, dua chip dapat digabung dalam satu blade dengan total 272 core. Untuk konfigurasi satu rak pusat data penuh, jumlah core bisa mencapai lebih dari 8.000 core. Arm juga menyebut dalam sistem pendingin cair skala besar, jumlah core dapat ditingkatkan signifikan hingga mencapai 45.000 core.
Dari sisi performa, Arm mengklaim Arm AGI CPU mampu memberikan kinerja hingga dua kali lipat dibanding CPU berbasis arsitektur x86 pada beban kerja agentic AI. Meski demikian, chip ini juga diklaim unggul dalam efisiensi daya (performance per watt), yang disebut dapat menekan biaya listrik pusat data.
Arm AGI CPU dirancang untuk bekerja bersama akselerator AI seperti GPU atau NPU yang sudah ada di pasar. Dalam skema tersebut, CPU akan berperan sebagai “orkestrator” yang mengatur aliran data, jaringan, dan koordinasi sistem AI berskala besar.
Arm menargetkan Arm AGI CPU tersedia secara massal pada paruh kedua 2026. Saat ini, chip tersebut sudah dapat dipesan melalui mitra vendor server, termasuk Lenovo dan Supermicro.
Sejumlah perusahaan teknologi besar disebut telah menyatakan minat. Meta disebut menjadi pelanggan utama sekaligus mitra pengembangan awal, dengan penilaian bahwa chip ini dapat menghadirkan platform komputasi yang lebih efisien, meningkatkan kepadatan performa pusat data, serta mendukung pengembangan sistem AI mereka.
Selain itu, OpenAI, SAP, Cerebras, Cloudflare, serta perusahaan Korea seperti SK Telecom dan Rebellions juga disebut telah menyepakati penggunaan chip ini dalam infrastruktur mereka. OpenAI menyatakan Arm AGI CPU akan berperan penting dalam meningkatkan efisiensi, bandwidth, dan koordinasi sistem AI skala besar yang digunakan oleh ratusan juta pengguna.
Namun, tidak semua mitra lama Arm terlihat memberikan dukungan publik terhadap langkah ini. Sejumlah pelanggan besar seperti Apple, Nvidia, dan Qualcomm disebut tidak menampilkan dukungan terbuka, memunculkan spekulasi adanya potensi ketegangan di industri. Dengan mulai memproduksi chip sendiri, Arm berpotensi berubah dari mitra menjadi pesaing bagi perusahaan-perusahaan yang selama ini menggunakan desainnya.
Langkah Arm memasuki produksi chip menegaskan besarnya peluang bisnis di pasar chip AI untuk pusat data. Ke depan, pasar tersebut diperkirakan terus tumbuh seiring peningkatan kebutuhan komputasi di pusat data global, dan persaingan pun berpotensi semakin ramai.