BERITA TERKINI
Aplikasi “Are You Dead” Mendadak Viral di China, Tawarkan Check-in Harian untuk Pengguna yang Tinggal Sendiri

Aplikasi “Are You Dead” Mendadak Viral di China, Tawarkan Check-in Harian untuk Pengguna yang Tinggal Sendiri

Aplikasi bernama “Are You Dead” mendadak menjadi perbincangan di China. Platform ini menarik perhatian karena mengusung konsep sederhana namun tidak lazim: meminta pengguna melakukan check-in harian sebagai bentuk pemantauan keselamatan digital, terutama bagi mereka yang tinggal sendirian. Popularitasnya meningkat seiring makin banyak orang menilai pentingnya sistem pemantauan dasar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penggunaannya, aplikasi ini meminta pengguna menekan tombol berwarna hijau di layar yang menampilkan gambar hantu sebagai tanda check-in. Jika pengguna tidak memberikan tanda kehidupan selama dua hari berturut-turut, sistem akan otomatis mengirim notifikasi kepada kontak darurat yang sebelumnya didaftarkan. Mekanisme ini menjadi inti layanan aplikasi tersebut.

Kontak darurat yang menerima pemberitahuan akan diinformasikan bahwa pengguna mungkin sedang mengalami masalah. Dalam versi situs berbahasa Inggris, aplikasi ini disebut “Demumu”. Mengutip NY Post, pengembang menyebut Demumu sebagai “alat keselamatan ringan” yang ditujukan agar kehidupan menyendiri bisa terasa lebih menyenangkan. Aplikasi ini meluncur pada Mei tanpa banyak promosi, dengan harga US$1,15 atau sekitar Rp20.000, dan di China disebut menjadi aplikasi berbayar yang paling banyak diunduh.

Meski namanya terkesan menyeramkan, aplikasi ini diposisikan sebagai solusi praktis untuk meningkatkan rasa aman. Target pengguna yang kerap disebut antara lain pekerja urban, mahasiswa perantau, serta lansia yang hidup sendiri. Fitur yang sederhana itu dinilai dapat memberi ketenangan tambahan dalam menjalani aktivitas harian.

Viralnya aplikasi ini juga dikaitkan dengan perubahan sosial di China, ketika jumlah masyarakat yang tinggal sendiri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Urbanisasi, tekanan pekerjaan, serta menurunnya angka pernikahan disebut sebagai faktor yang ikut mendorong fenomena tersebut.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru, termasuk risiko meninggal tanpa diketahui orang lain. Kekhawatiran ini disebut bukan sekadar asumsi karena telah beberapa kali terjadi dalam kehidupan nyata, sehingga aplikasi seperti “Are You Dead” terasa makin relevan bagi sebagian orang.

Selain itu, meningkatnya rasa kesepian dan isolasi sosial turut menjadi latar yang memperkuat perhatian publik. Banyak individu tinggal jauh dari keluarga atau tidak memiliki interaksi rutin dengan orang lain. Dalam konteks ini, aplikasi tersebut hadir sebagai semacam “penjaga digital” untuk memastikan keberadaan seseorang tetap terpantau, meski secara minimal.

Namun di balik manfaatnya, aplikasi “Are You Dead” juga memicu perdebatan. Sebagian pihak menilai nama yang langsung menyinggung kematian tidak sensitif. Pengembang disebut mempertimbangkan perubahan nama agar lebih mudah diterima secara global.

Isu privasi juga menjadi sorotan. Penggunaan data pribadi serta sistem notifikasi kepada pihak lain menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana data pengguna dikelola dengan aman. Meski tujuannya untuk keamanan, kekhawatiran terkait pengelolaan data tetap muncul.

Di sisi lain, kemunculan aplikasi ini turut membuka diskusi lebih luas tentang kesepian di era modern. Sejumlah pihak melihatnya sebagai simbol perubahan gaya hidup, ketika teknologi mulai mengambil peran dalam menjaga kesejahteraan individu. Fenomena ini juga menunjukkan kebutuhan rasa aman yang kini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga digital.

Kontroversi yang menyertai aplikasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa inovasi digital perlu mempertimbangkan aspek etika dan psikologis. Terlepas dari perdebatan yang ada, aplikasi ini memicu kesadaran baru tentang pentingnya perhatian terhadap individu yang hidup dalam kesendirian.