Bagian utama antena teleskop radio VGOS (VLBI Global Observing System) seberat 85 ton resmi terpasang di Observatorium Bosscha, Lembang, Rabu (9/7/2025). Pemasangan dilakukan melalui proses big lift menggunakan crane dan diiringi doa bersama. Tahap ini disebut sebagai fase akhir struktur dalam proyek pembangunan, dengan total ketinggian bangunan teleskop mencapai 19 meter.
VGOS merupakan jaringan teleskop radio global yang beroperasi secara sinkron untuk mengamati sumber radio kosmik dengan presisi tinggi. Data yang dihimpun dari berbagai teleskop di dunia dapat digabungkan untuk memungkinkan pengukuran jarak antar titik di Bumi secara akurat. Aplikasi pengamatan ini antara lain untuk memantau pergerakan benua, termasuk kecepatan dan perubahan jaraknya dari waktu ke waktu, membuat kerangka acuan yang sangat akurat, membangun standar waktu yang presisi, serta memantau potensi perubahan iklim.
Pembangunan teleskop radio pertama di Indonesia ini merupakan kerja sama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Shanghai Astronomical Observatory (SHAO) – Chinese Academy of Sciences (CAS). Proyek tersebut juga tercantum dalam payung kerja sama Indonesia–China melalui Cooperation Plan yang ditandatangani pada 16 November 2022.
Ketua Tim Implementasi Pembangunan Teleskop Radio VGOS dan Rumah Teropong Kawasan Bosscha Lembang, Dr.rer.nat. Hesti Retno Tri Wulandari, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada pimpinan ITB periode 2020–2025 Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., pimpinan ITB saat ini Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., serta pihak-pihak terkait yang mendukung pembangunan. Ia berharap kehadiran fasilitas ini dapat mendorong kemajuan astronomi dan memberi kontribusi nyata. Menurutnya, pengangkatan disc antenna menandai puncak terwujudnya bangunan menara Teleskop Radio VGOS di Observatorium Bosscha.
Hesti juga menyinggung sejarah Observatorium Bosscha yang berdiri lebih dari 100 tahun lalu dan pernah menjadi satu dari tiga observatorium di belahan Bumi selatan. Saat ini, Bosscha berstatus sebagai objek vital nasional dan cagar budaya nasional serta berada di kawasan strategis nasional. Ia menyebut kehadiran instrumen baru VGOS sebagai kesempatan untuk kembali mencatatkan sejarah.
Penanggung jawab kerja sama pembangunan Teleskop Radio VGOS ITB–SHAO, Prof. Taufiq Hidayat, Ph.D., menyatakan proses big lift merupakan tahapan yang sangat krusial. Ia mengatakan ITB mengerahkan berbagai sumber daya untuk mewujudkan fasilitas yang diharapkan bermanfaat bagi peneliti, mahasiswa, dan mitra, baik di dalam maupun luar negeri.
Secara strategis, VGOS di Bosscha diproyeksikan menjadi representasi penting di wilayah ekuator bujur timur, melengkapi jaringan teleskop dunia yang hingga kini masih didominasi belahan Bumi utara. Posisi tersebut dinilai dapat memperkuat baseline pengamatan global yang menghubungkan belahan utara dan selatan. Teleskop ini direncanakan terintegrasi dengan stasiun lain yang telah ada di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman, Spanyol, Swedia, Australia, Afrika Selatan, Norwegia, Finlandia, Thailand, Portugal, dan Brazil.
Setelah pemasangan antena, proyek akan berlanjut ke tahap penyelesaian dari sisi arsitektural, kesipilan, permesinan, hingga elektro, sebelum memasuki tahap commissioning astronomi dan geodesi pada waktu mendatang.
Teleskop VGOS di Bosscha juga akan dilengkapi receiver GNSS, stasiun cuaca, serta antena holometry untuk mendukung riset multidisiplin, mulai dari astronomi radio hingga dinamika lempeng tektonik. ITB turut menjalin kerja sama data center dengan institusi internasional seperti TU Wien, TU Munich, SHAO, dan KASI, serta menjajaki peran sebagai correlation center pengolahan data VLBI.
Dalam jejaring global IVS (International VLBI Service for Geodesy and Astrometry), ITB tengah memproses pendaftaran stasiun VGOS Bosscha ke International Telecommunication Union (ITU) di Jenewa dengan nama “ITB Bosscha VLBI Station”. Proses ini disebut menandai integrasi resmi Indonesia dalam komunitas pengamatan geodesi internasional. ITB juga membuka peluang kolaborasi dengan jejaring regional dan global lain, termasuk East Asian VLBI Network (EAVN), Asia-Oceania VLBI Group (AOV), dan European VLBI Network (EVN).