BERITA TERKINI
Anak Terlalu Sering Main Gawai Berisiko Alami Virtual Autism, Ini Penjelasannya

Anak Terlalu Sering Main Gawai Berisiko Alami Virtual Autism, Ini Penjelasannya

Penggunaan gawai pada anak yang kian masif di era digital memunculkan fenomena yang perlu diwaspadai, yakni virtual autism atau autisme virtual. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai autisme, padahal disebut memiliki penyebab yang berbeda.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM/RS Sardjito, Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A(K), menjelaskan gejala virtual autism sekilas menyerupai autisme, terutama terkait interaksi sosial dan komunikasi anak. Namun, pemicunya berbeda.

“Autis itu prinsipnya gangguannya pada interaksi sosial, komunikasi, berbagi, bermain peran yang tidak ada pada anak. Kalau virtual autism ini dipicu oleh penggunaan gawai berlebih,” kata Prof. Mei dalam wawancara pada Sabtu (11/4/2026).

Fenomena ini menjadi perhatian karena masih banyak orangtua yang belum menyadari bahwa kebiasaan anak bermain gawai tanpa batas dapat memengaruhi perilaku serta perkembangan sosialnya.

Menurut Prof. Mei, anak yang mengalami virtual autism dapat menunjukkan perubahan perilaku yang cukup signifikan dan tampak mirip dengan autisme. “Kemudian, cirinya anak-anak jadi hiperaktif, dia fokus hanya ketika melakukan yang dia suka, terkadang dipanggil tidak merespon, dan mudah teralihkan,” ujarnya.

Gejala-gejala tersebut kerap membuat orangtua khawatir karena anak terlihat tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Padahal, kondisi ini dikaitkan dengan pola penggunaan gawai yang berlebihan dan minimnya stimulasi melalui interaksi langsung.

Selain perubahan perilaku, virtual autism juga dapat berdampak pada kemampuan komunikasi anak. Dalam sejumlah kasus, kondisi ini disebut dapat disertai keterlambatan bicara.

“Gejala ini juga banyak terjadi pada anak dengan ADHD. Tapi untuk virtual autism ini juga bisa disertai keterlambatan bicara pada anak dan enggan berinteraksi dengan sekitar,” lanjut Prof. Mei.

Kurangnya interaksi dua arah membuat anak dinilai tidak memperoleh stimulasi yang cukup untuk mengembangkan kemampuan bahasa. Akibatnya, anak cenderung pasif dalam berkomunikasi dan lebih memilih aktivitas individual, seperti bermain gawai.