BERITA TERKINI
AI Diklaim Bobol FreeBSD Lewat Celah Kernel dalam 4–8 Jam, Lebih Cepat dari Hacker Elit

AI Diklaim Bobol FreeBSD Lewat Celah Kernel dalam 4–8 Jam, Lebih Cepat dari Hacker Elit

Kemampuan kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan berhasil meretas FreeBSD, sistem operasi yang kerap dikenal memiliki reputasi kuat dalam hal keamanan. Dalam laporan yang dikutip dari analisis di Forbes, AI disebut mampu mengeksploitasi celah keamanan kritis di kernel FreeBSD secara jarak jauh dalam waktu kurang dari 10 jam, sekitar 4 hingga 8 jam.

Kecepatan tersebut kontras dengan kemampuan tim peretas manusia level elit yang, dalam kondisi operasi serupa, biasanya memerlukan waktu berminggu-minggu. Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa proses peretasan dilakukan tanpa campur tangan manusia, dengan AI bertindak sebagai pelaku utama.

Laporan tersebut diungkapkan oleh pakar teknologi siber Amir Husain. Ia menyebut model AI yang digunakan dibangun menggunakan Claude, model buatan Anthropic. Menurut Husain, AI itu mampu merancang rantai serangan eksekusi kode jarak jauh (Remote Code Execution/RCE) secara lengkap hingga berhasil memperoleh akses root shell, yakni akses tertinggi yang memungkinkan pengambilalihan kendali server secara menyeluruh.

Sepanjang prosesnya, AI disebut dapat menyiapkan lingkungan pengujian sendiri dengan memanfaatkan emulator QEMU. AI juga dilaporkan mampu menyusun rangkaian instruksi memori yang kompleks (ROP chain), serta mengidentifikasi masalah dan melakukan debugging secara mandiri ketika eksploitasi sempat gagal atau tersendat.

“Bagi mereka yang berkecimpung di bidang keamanan siber, ini adalah momen ambang batas krusial. Kita telah berpindah dari era di mana AI hanyalah alat bantu bagi periset keamanan, menjadi aktor otonom yang sepenuhnya mampu melakukan operasi ofensif canggih terhadap sistem,” tulis Husain dalam laporannya, sebagaimana dikutip.

Keberhasilan tersebut dipandang sebagai peringatan bagi industri teknologi. FreeBSD merupakan sistem operasi open-source yang secara historis dikenal kuat, stabil, dan kerap digunakan sebagai bagian dari infrastruktur internet. Kasus ini dinilai menunjukkan adanya transformasi dalam lanskap serangan siber.

Jika sebelumnya serangan siber tingkat tinggi membutuhkan biaya besar serta peretas manusia berpengalaman puluhan tahun, laporan itu menekankan bahwa AI dapat melakukannya dengan lebih cepat dan biaya yang lebih murah. Kondisi ini mendorong perusahaan besar dan lembaga keamanan negara untuk meninjau ulang, bahkan merombak, strategi pertahanan siber mereka.

Dalam gambaran yang lebih luas, laporan tersebut juga menilai bahwa ke depan dinamika konflik siber berpotensi bergeser, tidak lagi semata manusia melawan manusia, melainkan antarsistem AI yang saling menyerang dan bertahan.