Ancaman kepunahan bahasa lokal di berbagai belahan dunia kini mendapat harapan baru dari perkembangan teknologi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan satu bahasa lokal punah setiap dua minggu, dan separuh dari seluruh bahasa di dunia diproyeksikan menghilang pada tahun 2100.
Di tengah situasi tersebut, sekelompok generasi muda memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan robotika untuk menghidupkan kembali bahasa asli komunitas mereka. Salah satu inisiatif datang dari Danielle Boyer, pemuda dari komunitas Anishinaabe di Michigan, Amerika Serikat, yang mengembangkan robot pengajar bahasa bernama SkoBot.
Boyer menyoroti cepatnya hilangnya bahasa antar-generasi di komunitasnya. Ia menjelaskan bahwa banyak kakek-neneknya menggunakan bahasa Anishinaabemowin, sementara generasi orang tua hanya menguasai sedikit, dan generasinya lebih sedikit lagi. Proyek SkoBot pun menjadi bagian dari dorongan yang lebih luas untuk menjaga bahasa lokal melalui bantuan teknologi.
SkoBot dirancang sebagai robot seukuran cangkir kopi berbentuk hewan hutan, terinspirasi dari mainan Elmo yang bisa berbicara. Robot ini dibuat agar dapat diletakkan di bahu pengguna dan memungkinkan percakapan interaktif dua arah.
Dalam penggunaannya, SkoBot memanfaatkan teknologi pengenalan suara berbasis AI untuk mengidentifikasi kata dalam bahasa Inggris, lalu memutar audio yang telah direkam sebelumnya untuk padanan kata tersebut dalam bahasa Anishinaabemowin. Boyer merancangnya khusus untuk anak-anak di ruang kelas, dengan audio yang menggunakan suara anak-anak dari komunitas setempat. Ia juga menyebut siswa dapat membangun dan merakit robot mereka sendiri, sehingga pembelajaran bahasa dapat berjalan bersamaan dengan pengenalan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).
Upaya serupa juga dilakukan Jared Coleman, asisten profesor dari California, yang terinspirasi menyelamatkan bahasa suku Paiute Lembah Owens yang hampir punah. Pengalaman keluarga di masa lalu—ketika bahasa mereka pernah dilarang digunakan di sekolah—mendorong Coleman memanfaatkan ilmu komputer untuk pelestarian bahasa.
Coleman melatih model bahasa besar (Large Language Model) seperti GPT-3.5-turbo dan GPT-4 menggunakan kata-kata dari bahasanya. Dari pelatihan tersebut, ia membuat kamus Owens Valley Paiute daring, alat pembuat kalimat, serta penerjemah. Ia berharap dapat terus mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih canggih.
Coleman mengatakan alat tersebut dibuat terutama untuk membantu anggota komunitasnya. Namun, ia juga berharap keberadaan perangkat itu dapat menarik minat turis yang berkunjung ke daerahnya.
Meski menawarkan solusi, penggunaan AI dalam pelestarian bahasa juga memunculkan tantangan etika dan persoalan akurasi. Boyer memilih tidak menggunakan audio buatan AI dan lebih mengandalkan rekaman suara asli. Ia menekankan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang hidup, sehingga pembelajaran bahasa tidak seharusnya hanya terjadi melalui robot atau ponsel, melainkan bersama anggota komunitas.
Untuk mencegah eksploitasi, Boyer memastikan anggota komunitas yang merekam suara tetap memiliki hak penuh atas rekaman tersebut. Coleman juga menerapkan kehati-hatian serupa dengan tidak memasukkan rekaman suara para leluhurnya secara langsung ke dalam model AI, karena beberapa di antaranya berupa lagu dan cerita suci yang dianggap sakral.
Keduanya sepakat bahwa akurasi AI masih menjadi pekerjaan rumah. Mereka mengingatkan bahwa bahasa tidak sekadar kumpulan kata, melainkan juga memuat budaya dan sejarah komunitas yang menggunakannya.