Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah teknologi ini akan memangkas jumlah tenaga kerja secara drastis. Kekhawatiran tersebut menguat setelah CEO Amazon Andy Jassy menyampaikan bahwa perusahaannya akan mengurangi jumlah pekerja karena sebagian pekerjaan digantikan oleh AI. Ia juga memperingatkan bahwa AI akan memengaruhi beragam pekerjaan dan sektor dalam skala luas.
Peringatan serupa tidak hanya datang dari Amazon. Sejumlah perusahaan teknologi turut menyoroti bahwa terobosan AI berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja manusia. Pada Mei lalu, CEO startup AI Anthropic mengatakan kepada situs berita Axion yang berbasis di Arlington, Virginia, Amerika Serikat, bahwa AI dapat mengambil alih separuh pekerjaan karyawan tingkat pemula dalam satu hingga lima tahun ke depan.
Di sisi lain, tren pengurangan tenaga kerja kantoran sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan publik di Amerika Serikat tercatat memangkas pekerja kantoran hingga 3,5% selama tiga tahun terakhir, menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip penyedia data ketenagakerjaan Live Data Technologies. Selama satu dekade terakhir, satu dari lima perusahaan dalam indeks saham Standard&Poors 500 AS disebut mengalami penyusutan.
Sejumlah perusahaan besar juga telah mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa bulan terakhir, termasuk Microsoft, Hewlett Packard, dan Procter & Gamble. Sementara itu, Shopify menyatakan bahwa tim yang meminta tambahan staf harus terlebih dahulu membuktikan AI tidak dapat menangani tugas yang dimaksud. Duolingo, aplikasi pembelajaran bahasa, juga berencana mengganti pekerja kontraknya dengan AI secara bertahap.
Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran akan pengangguran massal. Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan seperempat pekerjaan di seluruh dunia berisiko tinggi digantikan oleh otomatisasi AI. Namun, AI juga dipandang berpotensi menciptakan peluang baru dan meningkatkan produktivitas.
Laporan World Economic Forum pada awal tahun ini memperkirakan transformasi teknologi akan menggantikan sekitar 92 juta pekerjaan yang ada pada 2030, tetapi pada saat yang sama menciptakan 170 juta pekerjaan baru. Dalam proyeksi tersebut, pekerjaan di negara maju dinilai kemungkinan akan lebih terpengaruh oleh AI dibandingkan negara berkembang.
Temuan serupa juga disampaikan dalam studi Dana Moneter Internasional (IMF) tahun lalu. IMF menyebut teknologi memengaruhi 60% pekerjaan di negara maju, dengan dampak yang terbagi: sekitar setengahnya negatif dan setengahnya positif. Laporan itu juga menyimpulkan sekitar 40% pekerjaan di negara berkembang dan 26% pekerjaan di negara berpenghasilan rendah akan terdampak. Meski dampak awal di negara-negara tersebut relatif lebih kecil, mereka dinilai juga cenderung tidak memperoleh manfaat produktivitas sebesar yang dijanjikan AI.
Soal siapa yang paling terdampak, pola perubahan kali ini diperkirakan berbeda dari gelombang otomatisasi sebelumnya. Pada masa lalu, pekerja berketerampilan rendah dan pekerja kerah biru—seperti pekerja pabrik—sering menjadi kelompok yang paling terdampak, misalnya ketika robot menggantikan pekerjaan di lini produksi. Namun, adopsi AI secara luas diperkirakan akan menekan pekerja kantoran berpendidikan lebih tinggi, terutama yang tugasnya dapat dilakukan AI dengan kualitas yang sama atau lebih baik.
Studi Pew Research Center di Amerika Serikat menemukan bahwa pekerjaan yang melibatkan pengumpulan informasi dan analisis data—seperti pengembang web, penulis teknis, akuntan, dan pekerja entri data—termasuk yang berisiko tinggi digantikan oleh AI. Sebaliknya, pekerjaan padat karya yang sulit diotomatisasi, seperti pekerja konstruksi, pengasuh anak, dan petugas pemadam kebakaran, diperkirakan tetap menjadi kelompok pekerjaan yang paling tangguh.
Kekhawatiran atas hilangnya pekerjaan dalam skala besar turut menarik perhatian berbagai pihak. Bahkan Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik dunia, disebut memperingatkan ancaman AI terhadap pekerjaan dan martabat manusia.
Meski demikian, sebagian pakar menilai kekhawatiran tersebut berlebihan. Pakar pasar tenaga kerja Enzo Weber dari Institute of Employment Research (IAB) di Nürnberg, Jerman, berpendapat bahwa kemajuan AI justru membuka peluang ekonomi dan lebih membantu pekerja ketimbang memicu pengangguran massal. Menurutnya, AI mengubah pekerjaan, tetapi tidak secara fundamental menghilangkannya, karena dalam banyak kasus teknologi ini membantu pekerja mengembangkan tugas baru dan mengerjakannya lebih baik, bukan menggantikannya.
Pandangan sejalan disampaikan dalam makalah yang diterbitkan Januari oleh ekonom Harvard David Deming, Christopher Ong, dan Lawrence H. Summers. Mereka menilai otomatisasi tugas-tugas tertentu dalam pekerjaan tidak serta-merta mengurangi lapangan kerja, bahkan dapat mendorong peningkatan lapangan kerja di beberapa sektor. Mereka juga menekankan bahwa kemampuan mengotomatisasi tugas berat dapat membuat pekerja lebih produktif sehingga output meningkat, yang pada gilirannya dapat mengimbangi pergeseran sebagian tugas ke mesin. Namun, mereka menilai dampak AI kemungkinan meluas dan bertahan lama, dengan perubahan yang terjadi bertahap selama beberapa dekade.
Di tengah perdebatan tersebut, dampak jangka panjang AI terhadap pasar tenaga kerja global masih belum pasti karena pengembangannya dinilai masih berada pada tahap awal. Efektivitas berbagai alat AI juga bergantung pada seberapa baik teknologi itu diintegrasikan ke tempat kerja, serta kemauan dan kemampuan pekerja untuk menggunakannya. Jika pekerja menolak memanfaatkan AI sepenuhnya karena takut kehilangan pekerjaan, peningkatan produktivitas yang dijanjikan teknologi ini dapat terganggu.
Weber mendorong perusahaan dan pekerja untuk beradaptasi dengan lanskap teknologi yang berubah dan memanfaatkan peluang yang tersedia. Baginya, AI merupakan “game changer” yang menuntut pengembangan lebih lanjut dan pelatihan aktif bagi pekerja, bukan hanya untuk mengejar ketertinggalan, tetapi untuk melangkah lebih jauh ke depan.