Penggunaan gawai pada anak semakin sulit dihindari, termasuk oleh orangtua yang mengenalkannya sejak usia dini. Namun, dua tahun pertama kehidupan anak disebut sebagai masa krusial bagi perkembangan otak sehingga paparan layar berlebihan dinilai berisiko mengganggu proses tumbuh kembang.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM/RS Sardjito, Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A(K), menegaskan penggunaan gawai pada anak di bawah usia dua tahun sebaiknya dihindari. Ia merujuk pada anjuran Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menyarankan anak sebelum usia 2 tahun idealnya tidak diperkenalkan atau tidak menggunakan gawai.
“Anjuran dari Kemenkes dan IDAI, sebelum usia anak 2 tahun, idealnya tidak diperkenalkan atau tidak menggunakan gawai, kecuali untuk video call kerabat terdekat dengan pendampingan,” kata Prof. Mei saat diwawancarai, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Prof. Mei, alasan utama pembatasan tersebut berkaitan dengan pesatnya perkembangan otak pada dua tahun pertama kehidupan. Pada fase ini, kemampuan dasar anak berkembang signifikan dan membutuhkan stimulasi yang tepat.
“Dalam 2 tahun pertama kehidupan anak, perkembangan otaknya masih sangat pesat, semua sensorinya berkembang dengan baik. Maka, dibutuhkan interaksi dua arah untuk memakimalkannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, interaksi dua arah tidak hanya sebatas mengajak anak berbicara, melainkan melibatkan berbagai rangsangan yang mengaktifkan indra anak secara bersamaan. Aktivitas seperti bermain, berbicara, serta merespons ekspresi anak dinilai berperan penting dalam proses belajar dan pembentukan kemampuan kognitif, bahasa, dan sosial.
“Interaksi dua arah ini bukan hanya bicara tapi juga melibatkan semua sensori anak, seperti penglihatan, pendengaran, perabaannya, dan lainnya harus diaktifkan,” kata Prof. Mei.
Ia menambahkan, penggunaan gawai cenderung bersifat satu arah sehingga tidak memberikan stimulasi yang memadai bagi perkembangan sensorik anak. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendampingan dan aktivitas interaktif dalam keseharian anak.
Setelah anak memasuki usia dua tahun, penggunaan gawai disebut mulai diperbolehkan, tetapi tetap perlu batasan yang ketat. Durasi penggunaan disarankan dibatasi dan dilakukan di bawah pengawasan orangtua.