PT Solusi Sinergi Digital Tbk (IDX: WIFI) atau Surge memperkuat posisinya di pasar fixed broadband dengan menangkap peningkatan permintaan layanan Fiber To The Home (FTTH) dan Fixed Wireless Access (FWA). Melalui anak usahanya, PT Telemedia Komunikasi Pratama, perusahaan meluncurkan layanan 5G FWA pada pita frekuensi 1,4 GHz secara komersial dengan merek IRA – Internet Rakyat sejak 19 Februari 2026.
Peluncuran tersebut menandai dimulainya fase eksekusi komersial penuh IRA. Layanan ini dirancang untuk mendukung target program Kementerian Komunikasi dan Digital, dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan harga maksimal Rp147.000.
Dalam penawarannya, IRA menyediakan paket fixed broadband Rp100.000 per bulan dengan kecepatan sampai 100 Mbps, data unlimited tanpa batas kuota, bebas biaya instalasi, serta gratis sewa modem. Perusahaan menilai strategi harga ini dapat mempercepat penetrasi internet terjangkau di masyarakat.
Direktur perseroan Shannedy Ong menyampaikan, pengembangan jaringan dengan target 5.500 site aktif pada 2026 akan menjadi salah satu rollout awal 5G FWA terbesar di kawasan. Ia juga menyebut perusahaan memiliki arah ekspansi untuk menjangkau lebih dari 5 juta pelanggan melalui layanan broadband 5G berbiaya rendah.
Dari sisi riset pasar, analis Semesta Indovest Sekuritas Michael Lee menilai WIFI berada dalam fase pertumbuhan seiring monetisasi jaringan mulai berjalan. Dalam proyeksinya, pendapatan perseroan berpotensi tumbuh dengan CAGR lima tahun sebesar 63% hingga mencapai Rp7,7 triliun pada 2028, dengan kontribusi FTTH Starlite sekitar Rp4,4 triliun dan IRA FWA sekitar Rp1,9 triliun. Riset tersebut juga memuat rekomendasi beli saham WIFI dengan target harga Rp5.200 per saham.
Sementara itu, tim riset Phintraco Sekuritas mencatat saham WIFI diperdagangkan pada price earning ratio (PER) 39,19 kali, lebih tinggi dari rata-rata industri media dan hiburan sebesar 27,31 kali. Namun, rasio price to book value (PBV) berada di level 1,91 kali, lebih rendah dibanding rata-rata industri sebesar 2,64 kali.
Ekspansi jaringan turut didukung kolaborasi pemanfaatan ribuan aset milik PT Pos Indonesia untuk mempercepat distribusi layanan internet murah ke berbagai wilayah. Strategi ini disebut memperkuat posisi WIFI dalam persaingan penyedia broadband nasional sekaligus memperluas akses konektivitas digital di Indonesia.