YOGYAKARTA — Perkembangan kesehatan digital semakin ditandai dengan hadirnya wearable teknologi pencitraan untuk monitoring kesehatan. Perangkat yang dapat dikenakan ini memungkinkan pemantauan kondisi tubuh secara real-time, dengan dukungan sensor canggih dan kecerdasan buatan untuk membantu membaca berbagai indikator kesehatan.
Melalui perangkat yang dipakai sehari-hari, pengguna dapat memantau tanda-tanda vital, melihat pola kesehatan, hingga memperoleh analisis yang dapat membantu mengenali potensi risiko medis secara berkelanjutan tanpa harus selalu datang ke fasilitas layanan kesehatan.
Wearable teknologi pencitraan untuk monitoring kesehatan didefinisikan sebagai perangkat yang dapat dikenakan untuk memantau sejumlah elemen kesehatan, seperti tekanan darah, detak jantung, kadar glukosa, serta analisis tidur. Data yang terkumpul dapat dikirimkan ke ponsel pintar atau komputer untuk dianalisis dan memberikan umpan balik secara langsung.
Sejumlah jenis wearable kesehatan yang beredar di pasaran mencakup monitor tekanan darah yang mengukur tekanan darah sepanjang hari untuk pelacakan jangka panjang dan membantu manajemen kondisi seperti hipertensi. Ada pula monitor glukosa atau Continuous Glucose Monitors (CGM) yang melacak kadar gula darah secara real-time guna membantu pasien diabetes mengelola kondisinya; beberapa CGM dapat terhubung dengan pompa insulin untuk pemberian otomatis.
Selain itu, terdapat holter monitor, yakni perangkat ECG portabel yang merekam aktivitas listrik jantung, mendeteksi ketidakteraturan, serta memberi wawasan terkait kesehatan jantung termasuk pemantauan fibrilasi atrium. Kategori lain adalah fitness tracker yang memantau aktivitas fisik seperti langkah, jarak tempuh, kalori terbakar, dan pola tidur, serta melacak detak jantung dan pada beberapa perangkat dilengkapi GPS.
Smartwatch dan smart ring juga termasuk dalam kelompok ini. Melalui biosensor, perangkat tersebut dapat melacak metrik kesehatan seperti suhu tubuh, kadar oksigen dan hidrasi, detak jantung, aktivitas, serta analisis tidur. Sejumlah model juga memiliki kemampuan ECG.
Dari sisi manfaat, wearable monitoring kesehatan mendukung remote patient monitoring, yakni pemantauan real-time yang membantu memastikan intervensi tepat waktu saat terjadi kondisi kesehatan serius. Pendekatan ini dinilai dapat mengurangi kebutuhan kunjungan ke rumah sakit sekaligus meningkatkan kesejahteraan pasien.
Manfaat lainnya adalah tersedianya wawasan berbasis data yang dapat digunakan dokter untuk menyesuaikan rencana perawatan sesuai kebutuhan individu dan membantu pengambilan keputusan klinis. Penggunaan wearable juga berpotensi meningkatkan keterlibatan pasien karena mendorong peran aktif dalam manajemen kesehatan, sehingga komunikasi antara pasien dan penyedia layanan kesehatan menjadi lebih proaktif.
Wearable turut mendukung perawatan preventif dengan membantu mengidentifikasi faktor risiko dan mendorong tindakan pencegahan, sehingga potensi masalah kesehatan dapat ditangani sebelum memburuk. Di sisi lain, perangkat ini juga bermanfaat dalam manajemen penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung melalui pemantauan yang berkelanjutan.
Meski menawarkan kemudahan, penggunaan wearable monitoring kesehatan juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah interoperabilitas, karena integrasi dengan sistem rekam medis elektronik (EHR) masih berkembang. Kompatibilitas antara teknologi wearable dan perangkat lunak kesehatan menjadi penting agar data yang dikumpulkan dapat memberi manfaat yang bermakna bagi klinisi.
Tantangan berikutnya terkait pengelolaan data. Seiring perangkat wearable semakin canggih dengan fitur dan otomasi baru, sistem EHR yang memanfaatkan AI dan otomasi untuk menganalisis serta menyortir data medis yang relevan dinilai diperlukan agar dokter tidak kewalahan oleh banyaknya data pasien.